Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Uang Koin Era Majapahit Jadi Alat Tukar Perdagangan, Diproduksi di Pesisir

Fendy Hermansyah • Sabtu, 4 Februari 2023 | 11:31 WIB
ALAT TUKAR: Sejumlah uang koin kepeng, ma, dan gobog yang merupakan alat tukar perdagangan yang sah era Majapahit kini dipajang di Museum PIM BPK Wilayah XI Jatim, Trowulan. (Martda Vadetya/JPRM)
ALAT TUKAR: Sejumlah uang koin kepeng, ma, dan gobog yang merupakan alat tukar perdagangan yang sah era Majapahit kini dipajang di Museum PIM BPK Wilayah XI Jatim, Trowulan. (Martda Vadetya/JPRM)
KERAJAAN Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan agraris maritim terbesar pada masanya. Hasil bumi yang melimpah ruah jadi salah satu faktor masifnya aktivitas perdagangan di wilayah Nusantara hingga menarik perhatian saudagar luar negeri. Sehingga saat itu uang diproduksi sebagai alat tukar dan transaksi dagang yang sah.

Hasil penelusuran dan temuan para peneliti kepurbakalaan menunjukkan, ada sejumlah mata uang yang berlaku pada masa Majapahit. Di antaranya, uang koin kepeng, ma, dan gobog. Secara detail, masing-masing uang koin memiliki karakteristik yang berbeda. Dari segi ukuran, uang koin ma memiliki ukuran paling mini dibanding lainnya. Bentuknya seperti kancing baju atau bahkan bulir jagung dengan diameter sekitar 1 sentimeter. Uang koin ma diproduksi dengan bahan logam mulia seperti emas maupun perak.

’’Disebut uang ma karena ada tulisan aksara dewanagari (India) di sisi koinnya yang berbunyi ma,’’ ungkap Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D. Bisa dibilang, komposisi dari dari emas maupun perak tersebut membuat warna warna koin ma relatif lebih cerah ketimbang uang koin lainnya. Sebab, uang koin kepeng dan gobog yang menggunakan bahan campuran tembaga memiliki warna yang cenderung gelap.

Uang koin kepeng dan gobog punya karakteristik yang hampir sama. Yakni dengan lubang berbentuk persegi di tengah koin yang berbentuk lingkaran pipih. Umumnya, diameter uang gobog lebih besar ketimbang uang kepeng. Yakni sekitar 5 sentimeter dibanding 3 sentimeter. Pada uang kepeng, tertulis aksara Cina sesuai dinasti atau kerajaan yang berkuasa saat itu. ’’Jadi uang ma dan kepeng ini memang berasal dari luar Majapahit. Tidak diproduksi di sini. Uang ma dari India dan kepeng dari Cina,’’ terangnya.

Tommy menjelaskan, hanya uang koin gobog yang diproduksi di wilayah Majapahit. Meski begitu, uang koin tersebut dicetak pada periode akhir kerajaan dengan sistem monarki tersebut. Uang gobog dicetak melalui proses metalurgi. Campuran bahan tembaga dilelehkan di atas api dengan suhu lebih dari 1.000 derajat yang lantas dituang ke dalam cetakan. Bahkan, desain uang gobog disebut meniru uang kepeng produksi Cina.

’’Desainnya meniru uang kepeng, namun uang gobog memakai unsur hias lokal. Seperti tokoh pewayangan maupun aksara jawa kuno,’’ ujarnya. Tommy menyebut, uang gobog era Majapahit banyak diproduksi di daerah pesisir pantai utara Jawa. Seperti wilayah Surabaya, Gresik, Lamongan, hingga Tuban. Hanya saja sejauh ini para peneliti belum mendapati temuan artefak peninggalan proses produksi uang koin kuno tersebut.

’’Temuan artefak pembuatan uangnya masih belum ditemukan. Para peneliti menduga uang gobog itu dibuat oleh para pedagang Cina berdasarkan sumber-sumber tertulis, tradisi, dan berita-berita Eropa dan Cina,’’ bebernya. Peredaran uang koin ma, kepeng, dan gobog memiliki masa yang berbeda. Uang koin ma dan kepeng, lanjut Tommy, bahkan sudah masuk ke tanah Jawa sebelum Kerajaan Majapahit berdiri.

’’Uang ma dan kepeng itu masuk ke Jawa sekitar awal abad 13 atau bahkan sebelumnya. Sebagai alat tukar perdagangan masyarakat pribumi dengan saudagar dari Cina maupun India. Jadi bisa dibilang mata uang sudah digunakan pada masa awal Majapahit berdiri,’’ paparnya. Peredaran sejumlah uang koin kuno tersebut terus digunakan masyarakat sebagai alat tukar yang sah bahkan hingga Kerajaan Majapahit runtuh di abad ke-15. Penggunaan mata uang mulai bergeser abad ke 16-17 saat penjelajah eropa masuk ke wilayah Nusantara untuk menjalin perdagangan.

’’Saat itu muncul mata uang yang dibawa pedagang Eropa seperti Portugis, Spanyol, ataupun Belanda. Uang ma, kepeng, dan gobog dominan dipergunakan pada era Majapahit karena saat itu belum muncul alternatif mata uang lain,’’ tukasnya. Kini, ratusan hingga ribuan keping uang kuno era Majapahit jadi bagian koleksi Museum PIM. Yang merupakan temuan peneliti Henry Maclaine Pont pada periode tahun 1924-1980 di wilayah Trowulan. (vad/fen)



Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Pemkot Mojokerto #mojosains #uang ma #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #kerajaan majapahit #uang majapahit #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #uang kepeng #trowulan #onde-onde