Jobong persegi pada sumur candi terdiri dari susunan bata kuno. Mulai dari bagian bibir hingga dinding sumur. Sejumlah bata penyusun struktur jobong tersebut direkatkan satu sama lain guna meminimalisir rembesan air. ”Jobong persegi di bangunan sakral merupakan susunan batu bata. Kemungkinan direkatkan dengan cara kosot atau lepoh (dengan menumbuk halus bata kuno untuk plester),” ungkap Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D.
Diterangkannya, fungsi air sumur di bangunan sakral yang juga digali secara manual tersebut tidak untuk kebutuhan rumah tangga. Melainkan hanya untuk mendukung kebutuhan air untuk aktivitas keagamaan pada saat itu. ”Air untuk ritual itu biasanya ditimba dari sumur dan dipindahkan ke wadah seperti tempayan atau jambangan. Kemudian air itu digayung dari jambangan atau wadah sejenisnya,” terangnya.
Jumlah sumur di kompleks bangunan suci pun beragam. Tidak jarang didapati hingga lebih dari dua sumuran di dalam situs komplek candi. Menyusul kegunaannya sebagai pendukung ritual keagamaan yang menyesuaikan tata letak bangunan dalam kompleks tersebut. ”Jumlah sumur di bangunan suci itu beragam, sesuai kebutuhan. Banyak juga candi yang sumurnya lebih dari satu,” sebut Tommy.
Disinyalir sumur kuno sudah dimanfaat masyarakat pada era pra-Majapahit. Menyusul, telah diterapkannya teknologi terakota sebelum abad ke 13-15 Masehi. ”Kemungkinan besar sumur sudah dimanfaatkan sebelum era Majapahit. Karena ada temuan sisa pembakaran terakota sebelum era Majapahit,” tandasnya. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah