Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Batik Mojokerto, Kini Bersaing dengan Produk Printing

Fendy Hermansyah • Kamis, 12 Januari 2023 | 13:43 WIB
PERAJIN KOTA: Seorang perajin batik asal Lingkungan Suratan, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto tengah merampungkan pesanan batik seiring keberadaan event MBF pada 5 Desember lalu. (dok Jawa Pos Radar Mojokerto)
PERAJIN KOTA: Seorang perajin batik asal Lingkungan Suratan, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto tengah merampungkan pesanan batik seiring keberadaan event MBF pada 5 Desember lalu. (dok Jawa Pos Radar Mojokerto)
SEMENTARA itu, masa keemasan bagi para perajin batik Mojokerto berlangsung sejak sejak koperasi berdiri. Sayangnya, era kejayaan berlangsung kurang lebih satu dekade. Itu seiring masuknya produk batik yang dihasilkan dari industri.

Ayuhanafiq mengatakan, kemunculan produk batik hasil pabrikan seiring kebijakan pemerintah pusat yang mencabut hak konsesi kain mori dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Akibatnya, perajin batik kesulitan mendapatkan bahan baku yang biasa difasilitasi lewat koperasi. ”Kalau pun ada, harga kain melambung di pasaran,” papar dia.

Kebijakan yang diberlakukan pada tahun 1970 itu menjadi awal kembali merosotnya produktivitas batik di Mojokerto. Meski beberapa perajin masih mencoba untuk bertahan, namun kain batik terpaksa dibanderol dengan harga tinggi mengikuti kenaikan biaya produksi.

Di sisi lain, momentum tersebut turut membuka peluang bagi investor untuk mendirikan industri tekstil. Di antaranya membangun usaha yang memproduksi kain batik. Kerajinan yang sebelumnya dihasilkan dengan cara mencanting lembar demi lembar perlahan mulai tersisih dengan batik yang diproduksi secara masal dengan teknik printing. ”Dengan kapasitas produksi yang, batik pabrikan membanjiri pasaran dengan harga murah,” imbuh Yuhan.

Dengan kondisi tersebut, sulit bagi perajin batik konvensional untuk membendung produk pabrikan. Akibatnya, beberapa pelaku usaha batik lokal Mojokerto memilih untuk gulung tikar. Nasib batik tulis pun makin tenggelam di tahun 1980-an.

Meski demikian, dewasa ini kerajinan batik Mojokerto kembali naik daun. Baik Pemerintah Kota dan Kabupaten Mojokerto mengupayakan promosi melalui event kedaerahan yang memberdayakan perajin batik lokal. Sejumlah motif pun juga telah dipatenkan sebagai corak khas Mojokerto. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #batik #canting #Mojopahit #batik majapahit #printing #kerajaan majapahit #batik printing #mojopedia #Kota Mojokerto #mojokerto #batik mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde