TROWULAN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ekskavasi tahap dua Situs Watesumpak, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, rampung pekan ini. Tim ekskavasi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim terus mengejar persebaran cagar budaya di sekitar situs.
Hasilnya, belum ditemukan benda dan struktur di luar kawasan situs. Justru, tim ekskavasi mendapati jejak aktivitas linggan di sekitar situs seluas 20 x 20 meter tersebut.
Jejak aktivitas pengerusakan faktor manusia tersebut ditemukan di sisi tenggara situs. Hal itu seiring tim ekskavasi menelusuri sebaran struktur yang disinyalir pemukiman bangsawan Majapahit tersebut. ’’Di ekskavasi tahap dua ini, kami kejar struktur yang membentuk T dan L di sisi tenggara. Ternyata semakin ke selatan itu putus,’’ ungkap Ketua Tim Ekskavasi sekaligus Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim M Ichwan, kemarin.
Yang didapati tim ekskavasi justru sebaliknya. Putusnya struktur bata kuno di tenggara situs disinyalir akibat aktivitas linggan yang memanfaatkan lahan di sekitar situs sebelumnya. Terbukti, ditemukan abu bekas pembakaran bata, hingga plastik dan glangsing yang terpendam di kedalaman 60 cm. ’’Di sisi tenggara, di kedalaman 60 cm, kami temukan abu, pecahan bata, plastik dan sak juga. Ini menandakan jika area ini dulu pernah dijadikan pembuatan batu bata (linggan),’’ bebernya.
Hanya saja, belum diketahui pasti luasan kerusakan di sekitar situs tersebut. Arkeolog BPK Wilayah XI Jatim turut mendapati runtuhan bata yang tersusun rapi di selatan situs. Disinyalir, itu merupakan runtuhan dinding berukuran sekitar 2 x 10 meter yang membentang dari timur – barat di selatan situs. ’’Reruntuhan bata ini tampak masih berpola, ini saling tumpang dan semakin ke selatan semakin menurun. Ini bagian dinding yang membujur ke timur-barat,’’ sebut Ichwan.
Robohnya dinding kuno tersebut, lanjut Ichwan, berbanding terbalik dengan kerusakan di tenggara situs. Disinyalir, runtuhnya separuh bagian dinding tersebut akibat adanya pergeseran tanah. ’’Kemungkinan besar karena faktor alam. Material tanah di sekitar lokasi ini pasir dan kerikil. Mungkin dulu karena ada air dengan kekuatan tertentu membuat struktur ini tidak stabil (roboh),’’ ucapnya.
Hasil interpretasi ekskavasi lanjutan ini pun tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Situs Watesumpak disinyalir permukiman era Majapahit. Namun, kini arkeolog mendapati adanya indikasi bangunan sakral di antara struktur kuno yang membagi beberapa ruang di situs tersebut.
’’Ada bangunan sakral di antara profan. Sakralnya, kami dapatkan profil seperti penampil candi di ujung utara, berjajar ke selatan dengan interval tertentu. Kami dapatkan juga di sisi selatan. Apakah partisi pagar, apakah berfungsi sebagai altar atau mandala untuk pemujaan, ini masih kami kejar,’’ paparnya.
Apalagi, dua kali ekskavasi yang dilakukan BPK Wilayah XI Jatim sejauh ini masih belum menggali seluruh bagian situs. ’’Total yang ditampakkan, dari luasan situs, sekitar 80 persen. Saat ini kami masih belum bisa katakan ini candi, karena unsur candi masih belum ditemukan secara komprehensif,’’ tandas Ichwan. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah