KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Pemkab Mojokerto melalui Disbudporapar menyuntik dana hingga ratusan juta untuk mendukung ekskavasi Situs Gemekan, Dusun Kedawung, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko. Hal itu sebagai bentuk komitmen dan keseriusan pemda dalam melestarikan cagar budaya (CB) yang menjadi peninggalan sejarah.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto Norman Handhito, mengatakan, pelestarian cagar budaya sudah menjadi kewajiban pemda. Sesuai Pasal 10, perda nomor 11 tahun 2015 tentang CB, pemda mempunyai tugas melakukan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Termasuk mempunyai tugas mengalokasikan anggaran bagi kepentingan pelestarian CB. ’’Sebagai komitmen disbudporapar, di-PAPBD 2022, kami anggarkan Rp 350 juta sebagai bentuk dukungan nyata dalam pelestarian cagar budaya ini,’’ ungkapnya.
Ploting itu tak lain sebagai biaya proses ekskavasi lanjutan Situs Gemekan, di Dusun Kedawung, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko. Di antaranya, dari sewa lahan selama setahun yang menjadi bagian pengamanan peninggalan sejarah yang berada di lahan milik warga. Termasuk, kebutuhan tenaga ahli, tenaga kasar, hingga pemeliharaan. ’’Ekskavasi lanjutan ini sangat penting untuk memperjelas struktur bangunan bersejarah yang nantinya harus kita lestarikan dan rawat. Baik itu terkait sebaran struktur dan denah atau pun bagaimana bentuknya,’’ tegasnya.
Menurutnya, Situs Gemekan ini membuat pemda dan tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim penasaran. Apalagi, dalam ekskavasi sebelumnya, di bagian tengah situs tertimbun tanah di kedalaman dua meter dan ditemukan sebuah prasasti bertulis aksara jawa. Benda berbentuk persegi enam itu ditemukan dalam kondisi patah. ’’Situs Gemekan ini menjadi menarik karena lengkap dengan prasasti yang menjelaskan terkait situs ini. Kita tidak lagi mengira-ngira. Dan oleh BPK, itu bernilai sejarah tinggi,’’ tegasnya.
Sehingga, tegas Norman, ekskavasi yang berlangsung tujuh hari, yakni, 1-7 Desember di situs yang diduga peninggalan Era Sri Maharaja Empu Sindok tersebut, bakal dilanjutkan dengan suntikan anggaran lagi di APBD 2023. Bahkan, dukungan pengungkapan benda peninggalan sejarah ini akan diperluas ke Situs Klinterejo, Kecamatan Sooko yang menjadi peninggalan era Raja Hayam Wuruk. Indikasinya, Situs Klinterejo dan Bhre Kahuripan ini menjadi satu kesatuan dalam area kompleks bangunan suci.
’’Jadi, pelestarian dan memelihara benda cagar budaya itu melekat dan menjadi keharusan bagi pemda. Makanya, kami beri perhatian serius. Kami bersama BPK Wilayah XI Jatim terus berupaya mengungkap sebaran struktur dan denahnya agar situs yang kita ekskavasi ini bisa semakin jelas,’’ tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, nantinya situs yang mempunyai sejarah tinggi juga bakal ditetapkan sebagai benda cagar budaya sesuai tingkatannya. Berdasarkan kajian BPK Wilayah XI Jatim. Apa masuk kategori kabupaten, provinsi atau pun nasional. ’’Jadi, akan didaftarkan sesuai tingkatan situs itu. Tapi, saat ini kami fokus tuntaskan ekskavasinya dulu, baru ditetapkan sesuai peringkat dan ke depan baru bicara soal kepariwisataannya. Kita juga harus merawat untuk menaruh juru pelihara,’’ paparnya.
Dari temuan yang ada, sejauh ini, tim BPK Wilayah XI Jatim menegaskan, Situs Gemekan memiliki karakter yang mirip dengan Candi Sambisari di Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Jawa Tengah. Terutama memiliki dua pagar keliling. Sedangkan, di Situs Gemekan, dinding dalam dan luar berjarak sekitar 3,2 meter. Antara bangunan utama candi dan dinding dalam sekitar 10 meter yang dikeliling dengan pagar lebih dari 40 meter.
Sebelumnya, Ketua Tim Ekskavasi sekaligus Arkeolog BPK Wilayah XI Jatim M Ichwan menerangkan, ekskavasi tahap IV situs ditemukannya Prasasti Gemekan atau Masahar ini untuk menelusuri sebaran struktur dinding keliling candi di sisi utara situs. ”Sasaran gali di sisi utara situs, dengan luasan dua trench (parit). Di mana satu trench adalah 2x40 meter. Dan kita juga melevelkan lantai candi. Biar sesuai dengan bagian dalam dan permukaan tanah saat itu agar terlihat secara utuh,” ujarnya.
Pondasi dinding keliling di sisi utara candi bercorak Hindu-Budha itu sudah berhasil ditampakkan. Sudut dinding dalam dan luar sisi barat laut juga sudah ketemu. Tersambung dengan dinding barat. Untuk sudut timur laut dinding dalam juga ketemu. (ori/ron)
Editor : Fendy Hermansyah