Ayuhanafiq melanjutkan, prosesi pemakaman Kiai Nawawi baru bisa dilakukan keesokan hari setelah gugur di Sidoarjo. Pasalnya, proses evakuasi jenazah juga tak kalah membutuhkan perjuangan. Dalam perjalanan menuju rumah duka di Kota Mojokerto, iring-iringan jenazah Kiai Nawawi masih dibayangi intaian musuh. ”Jenazah Kiai Nawawi berhasil dievakuasi menggunakan kereta api dari Stasiun Tarik menuju Mojokerto,” sambungnya.
Setiba di Mojokerto, pejuang yang gugur di medan perang tersebut langsung disambut dengan hujan air mata. Jenazah syuhada itu lalu diantarkan ke rumah duka di Lingkungan Jagalan yang kini masuk wilayah Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto.
Kediaman yang berada di Jalan Gajah Mada itu pun dibanjiri pelayat. Sehingga proses pemakaman baru bisa dilakukan keesokan harinya. Namun, sebut Yuhan, sesuai permintaan keluarga, kompleks Pemakaman Umum Losari dipilih sebagai tempat peristirahatan terakhir sesuai wasiat dari Kiai Nawawi. ”Semasa hidup, Kiai Nawawi telah berpesan ingin dikebumikan bersama warga lainnya sebagai orang biasa,” ulasnya.
Padahal, kata dia, Pemerintah Karesidenan Surabaya sebelumnya telah menawarkan agar jenazah Kiai Nawawi dimakamkan di TMP Gajah Mada. Dengan harapan, sang kiai bisa mendapat tempat terhormat sebagaimana pejuang lainnya yang gugur dalam membela tanah air.
Suasana haru pun menyelimuti prosesi pemakaman Kiai Nawawi. Ribuan pelayat mengiringi pemberangkatan jenazah dari rumah duka menuju tempat pemakaman yang masuk Desa Sidoharjo,Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. ”Dari ribuan pelayat juga menjadi saksi bahwa beliau (KH Nawawi, Red) adalah syuhada yang gugur demi membela kemerdekaan RI,” tukas Yuhan.
Selain dari berbagai lapisan masyrakat dan kalangan santri, sejumlah pejabat pemerintahan dan komandan militer juga turut memberi penghormatan terakhir pada mendiang Kiai Nawawi. Jasa pejuang pemberani itu juga akan terus dikenang. Di Kota Mojokerto, namanya juga dijadikan sebagai nama ruas jalan. Demikian Desa Plumbungan, Kecamatan Sukodono yang menjadi tempat gugurnya sang kiai pejuang juga ditandai dengan didirikan monumen. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah