Arkeolog mensinyalir, hal itu menandakan adanya bangunan beratap yang roboh secara alami. Temuan kreweng kuno tersebut ditemukan di beberapa titik. Yang menonjol, yakni di sisi barat dan tengah Situs Klinterejo. Tepatnya, di sekitar struktur pagar barat dan struktur di sekitar pendopo tani desa. Di pagar barat, pecahan genting yang terkonsentrasi itu terpendam sekitar 25 cm di bawah permukaan. Tepat di barat struktur pondasi pagar yang tengah digali, terdapat sekitar dua meter tanah dihiasi kepingan pecahan genting.
Sekitar lima meter di seberang timurnya pun terdapat temuan serupa. Jika dirangkai, kepingan pecahan genting tersebut bisa menjadi genting utuh berukuran sekitar 40×20 cm. ”Genting-genting ini terkonsentrasi jadi beberapa titik. Mereka menumpuk jadi satu di titik-titik tertentu walaupun kondisinya sudah tidak utuh,” ungkap Ketua Tim Ekskavasi sekaligus Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jatim M Ichwan.
Temuan di sisi barat situs itu, menunjukkan jika pernah ada struktur beratap yang pernah berdiri sebelumnya. Itu diperkuat dengan adanya temuan sejumlah umpak di sekitar lokasi. Yang notabene umpak merupakan bagian alas struktur penyangga bangunan. ”Di sini bahkan kami temukan satu umpak terpendam juga. Kemungkinan tanah di titik ini turun. Atau memang, ketinggian permukaan tanah saat itu memang sekian. Itu masih kami kejar,” bebernya.
Adanya temuan tersebut, lanjut Ichwan, disinyalir terdapat bangunan beratap yang berdiri di situs berangka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi itu. Namun, bangunan tersebut perlahan roboh dan menyebabkan bagian genting-genting berjatuhan di sisi barat dan timur titik tersebut. ”Kemungkinan bangunannya seperti pendopo. Namun apakah robohnya karena bencana atau termakan usia karena ditinggal penduduknya, ini yang masih kami telusuri lagi,” sebutnya.
Minimnya temuan struktur penyangga bangunan yang ditemukan di lokasi, membuat pihaknya tak bisa berspekulasi terlalu jauh. ”Apakah penyangga bangunan ini berbahan kayu atau bata juga, kami masih belum bisa sebutkan. Kalaupun kayu, sudah tidak meninggalkan sisa karena jangka waktu era Majapahit dengan sekarang yang terpaut jauh,” urai Ichwan. Temuan serupa di dapati di sekitar pagar bagian tengah kawasan situs. Tumpukan pecahan genting tampak terkonsentrasi hingga setebal 50 cm.
Temuan itu juga tepat di sekitar struktur yang disinyalir pagar bagian tengah situs. Namun, minimnya temuan serupa di titik gali tersebut membuatnya belum bisa bicara banyak. ”Di bagian tengah ini masih satu titik konsentrasi itu saja. Belum ada lagi yang ada pecahan genting tersusun rapi seperti itu,” tandasnya. (vad/fen) Editor : Fendy Hermansyah