Konon, di Sungai Brantas sekitar Dam Sipon kerap muncul buaya buntung dan penampakan anak-anak. Saking keramatnya, kemalangan diyakini akan menghampiri mereka yang nekat bekerja ketika siang bolong atau wayah bedhuk.
Dam Sipon memiliki sejarah panjang sebagai bangunan pengendali banjir sejak zaman Belanda. Di bangun pada 1913 dan tuntas 10 tahun kemudian, Dam Sipon mengaliran sungai dengan memotong sungai. Sipon, begitu warga menyebutnya, merupakan pintu air Sungai Watudakon dari arah Ngingasrembong, Kecamatan Sooko ke arah Desa Pagerluyung, Kecamatan Gedeg dengan melewati Sungai Brantas.
’’Di bawah Sungai Brantas ini ada gorong-gorongnya untuk lewat,’’ ujar Sudemo, warga di sekitar lokasi, kemarin (16/9). Aliran dari Sungai Watudakon itu nantinya tembus di Sungai Mas yang bermuara di Surabaya.
Sudemo menceritakan, sebagai kawasan perlintasan air, Dam Sipon kerap menjadi jujukan warga. Salah satunya yakni aktivitas memancing. Kawasan sempadan yang berada di sisi selatan Sungai Brantas juga digarap oleh petani sekitar. Mereka menanam jagung, tebu, hingga tanaman rumput gajah untuk pakan ternak. Sebelum memulai masa tanam, petani-petani melakukan ritual sejajen di Sungai Brantas. ’’Orang sini bilanganya daerah wingit,’’ tutur warga Dusun Prabon, Desa Blimbing, Kesamben, Jombang itu.
Berbagai penampakan gaib sering disaksikan warga di kawasan Dam Sipon. Seperti penampakan buaya buntung yang berkeliaran di Sungai Brantas hingga anak-anak dengan suara tertawa keras. Sosok-sosok itu dipercaya sebagai penjaga kawasan setempat. ’’Yang menggarap sawah ini kadang lihat buaya buntung ukuran besar. Sampai dibuatkan sesaji,’’ ulasnya.
Keangkeran Dam Sipon dipercaya warga selama turun-temurun. Mereka bahkan meyakini siapapun yang berperilaku sembarangan bakal mendapat tulah. Keyakinan itu membuat mereka lebih berhati-hati dan titen. ’’Kalau bekerja di sini, kalau sudah bedhuk (pukul 12.00, Red) disuruh berhenti, soalnya banyak barang tidak benar,’’ tutur pria 63 tahun tersebut.
Sebagai kawasan pengendali banjir, aktivitas proyek memang sering berlangsung di Dam Sipon. Warga selalu mengingatkan supaya para pekerja berhenti untuk beristirahat saat tengah hari. Hal itu diperaya untuk mengindari kemalangan akibat tulah penjaga Dam Sipon. ’’Dulu ada penambang pasir yang mati tertimbun karena nekat bekerja pas bedug. Baru-baru ini juga ada kuli proyek, untungnya tidak parah,’’ ungkapnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah