Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, keberadaan sekolah kepolisian pertama terletak di kawasan Pacet. Tepatnya diresmikan pada 15 Januari 1947 oleh Kepolisian Karesidenan Surabaya.
Dikatakannya, pusat pendidikan dan pelatihan itu bukan dibangun baru, melainkan memanfaatkan bangunan vila dan lahan yang berada di kaki Gunung Welirang. ”Kawasan vila yang sebelumnya milik orang asing itu kemudian dijadikan lokasi pendidikan polisi,” terangnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, selain sebagai pemusatan latihan, kawasan vila Pacet tersebut juga difungsikan sebagai barak. Menurutnya, persiapan pembentukan sekolah kepolisian itu terbilang singkat.
Karena di masa revolusi itu, kebutuhan personel untuk memperkuat pertahanan. Terlebih, Mojokerto menjadi target sasaran tentara kolonial yang kembali melakukan agresi setelah proklamasi kemerdekaan. ”Karena mendesak, maka pendidikan dan pelatihan juga dilakukan dengan singkat,” tuturnya.
Meski demikian, perekrutan calon anggota polisi dilakukan secara selektif dengan memprioritaskan keterampilan tempur. Peserta didik diasramakan dengan menempati bangunan di sekitar Pacet yang ditinggalkan penghuninya.
Digembleng dengan teori pertempuran dan penggunaan senjata, sekolah polisi di Pacet ditarget melahirkan pasukan hanya dalam tempo dua pekan. ”Setelah itu, mereka langsung dikirim ke garis pertahanan,” tandas penulis buku Garis Depan Pertempuran Laskar Hizbullah 1945-1950 ini.
Namun, tembusnya benteng pertahanan Mojokerto oleh tentara Belanda mengakibatkan keberadaan sekolah polisi pertama di Mojokerto ini tak berangsung lama. Karena pasukan kolonial juga melakukan penyisiran para pejuang di Pacet.
Namun, pusat pendidikan dan barak polisi yang menempati bekas vila itu sudah kosong. Seluruh personel sekolah polisi Pacet mundur ke kawasan Malang pada 18 Maret 1947 atau sehari sebelum kedatangan tentara Belanda. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah