Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kisah Empu Supo Mencari Keris Pusaka Raja Majapahit yang Hilang

Fendy Hermansyah • Selasa, 5 Juli 2022 | 21:00 WIB
MELEGENDA: Petilasan Empu Supo berada di area pemakaman umum Dusun/Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan. Bekas tempat singgah ahli keris era Majapahit ini dikeramatkan. (Yuliandto Adi Nugroho/Jawaposradarmojokerto.id).
MELEGENDA: Petilasan Empu Supo berada di area pemakaman umum Dusun/Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan. Bekas tempat singgah ahli keris era Majapahit ini dikeramatkan. (Yuliandto Adi Nugroho/Jawaposradarmojokerto.id).
TROWULAN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Keberhasilan Empu Supo menemukan keris pusaka Raja Majapahit yang hilang menjadi momentum emas hingga menjadikannya masuk catatan sejarah Majapahit. Menurut cerita rakyat yang berkembang, pencarian keris pusaka itu dilakukan penuh perjuangan karena harus melakukan semedi, mengelana, hingga menyamar.

Ketika masih muda, Empu Supo bernama Supo Mandrangi. Pemuda yang tangguh ini dikenal ulet dalam mempelajari ilmu pembuatan keris. Berkat kerja keras dan keuletannya, karya Supa Mandrangi disenangi banyak orang.

Bersama adiknya yang bernama Supagati, Ki Supo Mandrangi pun memiliki keinginan mengabdi kepada Kerajaan Majapahit. Maklum, menjadi ahli pusaka kerajaan merupakan impian banyak orang kala itu. Bahkan, mengabdikan diri kepada raja dianggap sebagai puncak pencapaian bagi para pembuat keris atau pusaka.

Tak disangka, ketika ingin mengabdi kepada keraton, rupanya kala itu Majapahit tengah diguncang permasalahan. Tak dinyana, Gedong Pusaka milik raja tengah kemalingan. Satu pusaka berharga bernama keris Kanjeng Sumelang Gandring raib dari tempat penyimpanannya.

Raja pun memanggil Ki Supo Mandrangi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ki Supo diminta mencari keris yang hilang. Karena perintah raja, Ki Supo pun menyanggupi. Meski, dirinya merasa tugas itu terbilang berat dan tak mudah diraih petunjuk-petunjuk untuk menelisik keris pusaka raja tersebut.

Terlebih, Sang Raja pun bertitah apabila Ki Supo Mandrangi mampu menemukan keris tersebut, dia bakal diperbolehkan mengabdi di keraton. Alhasil, kondisi itu membuat Ki Supa Mandrangi tak punya pilihan banyak selain menuruti titah raja.

Ki Supo Mandrangi pun memohon petunjuk tuhan. Dia bersemedi di tempat khusus. Hasilnya, dia mendapat pawisik untuk mengelana ke arah timur. Dengan ditemani Ki Supagati, Ki Supo Mandrangi pun mengenala.

Untuk menyembunyikan misi rahasis tersebut, Ki Supo Mandrangi pun melakukan penyamaran. Namanya diganti menjadi Ki Rambang. Kata "rambang" tak beda dengan "ngelambrang" alias berjalan ke mana pun tanpa tujuan yang pasti.

Setelah mengelana beberapa bulan, langkah kakinya pun menginjak Bumi Blambangan. Pada versi lain, menyebutkan Ki Supo Mandrangi disebut ngelambrang ke Madura dan bertemu Ki Kasa, seorang empu kelas tinggi. Versi lain juga menyebut, Ki Kasa tak lain adalah nama samaran dari Ki Supo Mandrangi.

Ki Supa terlebih dahulu menjumpai Ki Luwuk. Dia adalah empu senior yang dekat dengan Adipati Blambangan, Menak Dadali Putih. Lewat diplomasi kepada Ki Luwuk, Supo akhirnya bisa bertemu dengan Sang Adipati. Kepada penguasa Blambangan, Ki Supo mengaku bernama Pitrang dan ingin mengabdi kepada Sang Adipati.

Pitrang kemudian diterima mengabdi sebagai pembuat keris. Karya keris bikinannya pun berkualiyas. Belakangan, Sang Adipati mengetahui hasil kerja Pitrang yang bagus. Adipati Blambangan kemudian meminta Pitrang menemuinya. Tak lain ingin memberinya tugas baru.

Sang Adipati meminta Pitrang membuat keris putran alias keris duplikat. Yakni sebilah keris yang lurus nan indah. Pitrang alias Ki Supo begitu melihat keris kharismatik itu langsung tahu bahwa keris tersebut adalah keris Kanjeng Kyai Sumelang Gandring milik Raja Majapahit yang hilang dari Gedong Pusaka.

Kepada Sang Adipati, Ki Pitrang pun langsung menyanggupi permintaan membuat keris pitran. Tapi, dia mengajukan syarat yakni, selama 40 hari membuat keris putran, tak ada satu orang pun yang boleh memasuki besalen (tempat empu membuat keris). Sang Adipati lantas menyanggupi syarat. Bahkan meminta prajuritnya berjaga di luar besalen agar tak ada orang yang menganggu Ki Pitran ketika bekerja.

Dalam membuat keris putran, Ki Supo hanya dibantu adiknya, Ki Supagati. Selama 40 hari, Ki Supo bekerja keras. Tetapi, dia tidak hanya membuat sebikah keris melainkan dua bilab keris putran. Yang mana, bentuk, rupa, hingga pamornya sangat mirip dengan keris Kanjeng Kyai Sumelang Gandring.

Waktu berjalan hingga pekerjaan Ki Supo akhir rampung. Dia pun menghadap Sang Adipati. Ketika itu, dia menyembunyikan keris Kanjeng Kyai Sumelang Gandring di paha kirinya. Sedang, dua keris putran hasil karyanya dihadapkan kepada Sang Adipati. Dua putran itu disebut Ki Supo sebagai keris putran dan keris yang asli.

Tak dinyana, Sang Adipati terpukau dengan dua karya Ki Pitrang. Dia tak bisa lagi mengenali keris yang asli dan yang putran. Padahal, sebenarnya kedua keris itu adalah keris putran.

Sang Adipati Blambangan pun amat bahagia. Karya Ki Pitrang berhasil membuatnya gembira. Saking senangnya, Sang Adipati menikahkan Ki Pitrang alias Ki Supo dengan salah satu adik perempuamnya serta memberinya banyak hadiah.

Selang beberapa bulan kemudian, Ki Pitrang ingin pulang ke Majapahit. Dia pun berpesan kepada istrinya yang telah hamil. Jika telah lahir anak laki-laki agar diberi nama Jaka Sura. Setelah cukup besar, anak itu agar menyusulnya ke Majapahit.

Begitu sampai Majapahit, Ki Pitrang yang bernama asli Ki Supo Mandrangi menghadap Raja Majapahit. Di hadapan raja, dia memberikan keris Kanjeng Kyai Sumelang Gandring yang berhasil didapatkannya dari Adipati Blambangan.

Tahu keris pusakanya berhasil kembali, Sang Raja pun gembira. Karena telah berjasa besar menemukan dan mengembalikan keris pusaka keraton, Ki Supo kemudian diberi hadiah dan dinikahkan dengan salah satu putrinya. Ki Supo pun diangkat menjadi bangsawan kerajaan.

Tak hanya itu saja, Ki Supo pun diberi tanah perdikan di daerah Sedayu. Yakni, tanah yang dimerdekakan dari beban pajak dan menjadi daerah otonom. Oleh karena itu, keris bikinan Ki Supo sering dianggap sama atau serupa dengan keris buatan Pangeran Sedayu.

Ki Supo alias Pangeran Sedayu kemudian hidup mulia dan kaya raya. Meski begitu, Pangeran Sedayu tetap membuat keris. Karyanya pun kian berkembang menjadi keris yang kian indah dan berkarakter.

Selain tetap berkarya sebagai empu, Pangeran Sedayu juga mendidik orang-orang di daerahnya yang berminat belajar menjadi empu. Mula-mula mereka dijadikan panjak, dan setelah mahir disuruh membuat keris sendiri. Akhirnya para panjak itu pun dapat mandiri bekerja sebagai empu. Hasil karya mereka oleh orang yang hidup masa kini disebut keris Panjak Sedayu, yang kualitasnya hampir menyamai keris buatan Pangeran Sedayu. (dari berbagai sumber) Editor : Fendy Hermansyah
#Majapahit #kota onde-onde #Mojopahit #sekolah soekarno muda #Kota Mojokerto #Kisah Empu Supo #mojokerto #Petilasan empu supo #trowulan #onde-onde