Pompstation Djapanan di Desa Japanan, Kecamatan Kemlagi menjadi jejak pembangunan irigasi di masa Pemerintahan Hindia-Belanda. Bangunan yang berada di sisi utara Sungai Marmoyo ini menjadi salah satu kunci menyuburkan lahan tadah hujan menjadi pertanian produktif.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, lahan pertanian di wilayah utara Sungai Brantas mayoritas tergolong tadah hujan. Sehingga, petani hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi areal persawahan. ”Termasuk di utara sungai Marmoyo, karena letaknya lebih tinggi (dari permukaan air sungai). Sehingga, tidak memungkinkan dibuat irigasi teknis dengan membuat bendungan,” terangnya.
Sehingga, alternatif untuk mengalirkan air sungai ke lahan pertanian adalah dengan membangun sistem pemompaan air dan tandon air. Sehingga, pada 1907 pemerintah kolonial menerbitkan izin pembangunan instalasi pompa air di Desa Japanan.
Bangunan yang didirikan oleh Pabrik Gula Gempolkrep itu dinamakan Pompstation Djapanan. Di dalamnya dilengkapi sebuah pompa yang berfungsi menyedot air dari sungai Marmoyo.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, air kemudian ditampung ke dalam tandon berukuran besar yang letaknya dibuat lebih tinggi. Dari penampungan itu, air dialirkan melalui pipa besi dari Pompstation Djapanan hingga membentang ke utara hingga simpang empat Tanjungan. ”Dengan dibangunnya rumah pompa Japanan itu, lahan yang semula kritis berubah menjadi produktif,” paparnya.
Meski kini sudah tak berfungsi lagi, namun bangunan Pompstation Djapanan masih berdiri. Berdasarkan tulisan tahun yang tertera pada dinding bangunan, rumah pompa tersebut selesai dibangun pada 1911. ”Dari Tanjungan, air juga disalurkan dengan jaringan irigasi ke lahan pertanian di wilayah timur,” imbuh Yuhan. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah