Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Pompstation Djapanan Kemlagi, Ubah Lahan Kritis Jadi Produktif

Fendy Hermansyah • Kamis, 9 Juni 2022 | 19:16 WIB
TINGGAL RIWAYAT: Bekas kolam Pemandian Tirta Suam Sekar Putih Kota Mojokerto.
TINGGAL RIWAYAT: Bekas kolam Pemandian Tirta Suam Sekar Putih Kota Mojokerto.
DI masa kolonial, hamparan persawahan kritis di wilayah utara Sungai Brantas Kabupaten Mojokerto mampu diubah menjadi lahan produktif. Bahkan, di awal 1910an, hasil produksi tebu mampu menyuplai kebutuhan bahan baku di sejumlah pabrik gula. Sebab, kebutuhan air yang semula hanya mengandalkan curah hujan telah dipenuhi dengan sistem irigasi menggunakan pompa air.

Pompstation Djapanan di Desa Japanan, Kecamatan Kemlagi menjadi jejak pembangunan irigasi di masa Pemerintahan Hindia-Belanda. Bangunan yang berada di sisi utara Sungai Marmoyo ini menjadi salah satu kunci menyuburkan lahan tadah hujan menjadi pertanian produktif.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, lahan pertanian di wilayah utara Sungai Brantas mayoritas tergolong tadah hujan. Sehingga, petani hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi areal persawahan. ”Termasuk di utara sungai Marmoyo, karena letaknya lebih tinggi (dari permukaan air sungai). Sehingga, tidak memungkinkan dibuat irigasi teknis dengan membuat bendungan,” terangnya.

Sehingga, alternatif untuk mengalirkan air sungai ke lahan pertanian adalah dengan membangun sistem pemompaan air dan tandon air. Sehingga, pada 1907 pemerintah kolonial menerbitkan izin pembangunan instalasi pompa air di Desa Japanan.

Bangunan yang didirikan oleh Pabrik Gula Gempolkrep itu dinamakan Pompstation Djapanan. Di dalamnya dilengkapi sebuah pompa yang berfungsi menyedot air dari sungai Marmoyo.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, air kemudian ditampung ke dalam tandon berukuran besar yang letaknya dibuat lebih tinggi. Dari penampungan itu, air dialirkan melalui pipa besi dari Pompstation Djapanan hingga membentang ke utara hingga simpang empat Tanjungan. ”Dengan dibangunnya rumah pompa Japanan itu, lahan yang semula kritis berubah menjadi produktif,” paparnya.

Meski kini sudah tak berfungsi lagi, namun bangunan Pompstation Djapanan masih berdiri. Berdasarkan tulisan tahun yang tertera pada dinding bangunan, rumah pompa tersebut selesai dibangun pada 1911. ”Dari Tanjungan, air juga disalurkan dengan jaringan irigasi ke lahan pertanian di wilayah timur,” imbuh Yuhan. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#lahan produktif #lahan kritis #mojopedia #pompstation kemlagi #pompstation