Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jejak Perjuangan di Masjid Al-Ichsan Brangkal

Fendy Hermansyah • Kamis, 14 April 2022 | 15:32 WIB
TAK BERBEKAS: Simpang Jalan A. Yani dan Jalan Mojopahit yang dulu menjadi lokasi penempatan sirene untuk memberi tanda peringatan bahaya serangan udara. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)
TAK BERBEKAS: Simpang Jalan A. Yani dan Jalan Mojopahit yang dulu menjadi lokasi penempatan sirene untuk memberi tanda peringatan bahaya serangan udara. (Rizal Amrulloh/Jawa Pos Radar Mojokerto)
Sempat Jadi Markas Pejuang dan Pusat Latihan Laskar Hizbullah

JEJAK perjuangan kemerdekaan RI masih membekas di banyak tempat bersejarah di Kabupaten Mojokerto. Salah satunya berada di kompleks Masjid Al-Ichsan, Desa Brangkal, Kecamatan Sooko. Masjid yang terletak di Jalan Raya Mojokerto-Jombang ini menjadi saksi bisu semangat pejuang karena pernah digunakan sebagai markas sekaligus pusat latihan Laskar Hisbullah.

Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, Laskar Hizbullah merupakan kesatuan perjuangan kemerdekaan yang dibentuk di pengujung masa pendudukan Jepang. Dengan digawangi kiai, anggota laskar terdiri dari kalangan santri dan pemuda Islam. ”Pada awal pembentukannya, Laskar Hizbullah dibentuk dari masjid ke masjid,” terangnya.

Karena itu, kesatuan pejuang semi militer ini menjadikan masjid maupun musala di Mojokerto sebagai markas. Di antaranya Masjid Al-Ichsan yang dijadikan tempat berkumpul sekaligus berlatih oleh Laskar Hizbullah Kecamatan Sooko.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, lokasi yang strategis menjadi salah satu pertimbangan dipilihnya Masjid Al-Ichsan sebagai markas pejuang. ”Karena lokasinya berada di dekat jembatan arteri Brangkal. Sehingga lokasinya tepat dijadikan sebagai markas militer,” tandasnya.

Di sisi lain, sebelum kemerdekaan RI, Laskar Hizbullah belum menerapkan sistem asrama bagi para anggotanya. Sebab, anggota laskar berasal dari para pemuda sekitar. ”Jadi, anggota laskar pulang ke rumah masing-masing usai berlatih. Tapi, jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk turun ke garis depan, mereka harus siap,” tutur penulis buku Garis Depan Pertempuran Laskar Hizbullah 1945-1950 ini.

Yuhan menambahkan, penerapan asrama baru dilakukan Laskar Hizbullah Mojokerto pada kisaran 1946. Sejak saat itu, masjid yang didirikan Kiai Mansoer, Sidoresmo, Surabaya di tahun 1938 itu tak lagi dijadikan sebagai markas. Para anggota yang sudah dinyatakan layak untuk bertempur diasramakan di bekas bangunan Pabrik Gula (PG) Gempolkrep, Kecamatan Gedeg. (ram/ron)


Editor : Fendy Hermansyah
#pejuang mojokerto #masjid brangkal mojokerto #jejak perjuangan kemerdekaan #perjuangan kemerdekaan #brangkal mojokerto