JEJAK perjuangan kemerdekaan RI masih membekas di banyak tempat bersejarah di Kabupaten Mojokerto. Salah satunya berada di kompleks Masjid Al-Ichsan, Desa Brangkal, Kecamatan Sooko. Masjid yang terletak di Jalan Raya Mojokerto-Jombang ini menjadi saksi bisu semangat pejuang karena pernah digunakan sebagai markas sekaligus pusat latihan Laskar Hisbullah.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menjelaskan, Laskar Hizbullah merupakan kesatuan perjuangan kemerdekaan yang dibentuk di pengujung masa pendudukan Jepang. Dengan digawangi kiai, anggota laskar terdiri dari kalangan santri dan pemuda Islam. ”Pada awal pembentukannya, Laskar Hizbullah dibentuk dari masjid ke masjid,” terangnya.
Karena itu, kesatuan pejuang semi militer ini menjadikan masjid maupun musala di Mojokerto sebagai markas. Di antaranya Masjid Al-Ichsan yang dijadikan tempat berkumpul sekaligus berlatih oleh Laskar Hizbullah Kecamatan Sooko.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, lokasi yang strategis menjadi salah satu pertimbangan dipilihnya Masjid Al-Ichsan sebagai markas pejuang. ”Karena lokasinya berada di dekat jembatan arteri Brangkal. Sehingga lokasinya tepat dijadikan sebagai markas militer,” tandasnya.
Di sisi lain, sebelum kemerdekaan RI, Laskar Hizbullah belum menerapkan sistem asrama bagi para anggotanya. Sebab, anggota laskar berasal dari para pemuda sekitar. ”Jadi, anggota laskar pulang ke rumah masing-masing usai berlatih. Tapi, jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk turun ke garis depan, mereka harus siap,” tutur penulis buku Garis Depan Pertempuran Laskar Hizbullah 1945-1950 ini.
Yuhan menambahkan, penerapan asrama baru dilakukan Laskar Hizbullah Mojokerto pada kisaran 1946. Sejak saat itu, masjid yang didirikan Kiai Mansoer, Sidoresmo, Surabaya di tahun 1938 itu tak lagi dijadikan sebagai markas. Para anggota yang sudah dinyatakan layak untuk bertempur diasramakan di bekas bangunan Pabrik Gula (PG) Gempolkrep, Kecamatan Gedeg. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah