Menjaga Prasangka, Merawat Jiwa

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 06:25 WIB
Dr. H.M. Afif Zamroni, Lc, M.E.I, Staf Khusus Menteri Desa Bidang SDM dan Hubungan Kelembagaan.
Dr. H.M. Afif Zamroni, Lc, M.E.I, Staf Khusus Menteri Desa Bidang SDM dan Hubungan Kelembagaan.

Oleh: Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I., Staf Khusus Menteri Desa dan PDT

KECEPATAN informasi telah mengubah cara manusia merespons sebuah peristiwa. Dalam hitungan detik, sebuah kejadian dapat diketahui oleh ribuan bahkan jutaan orang. Media sosial menjadikan setiap orang bukan hanya sebagai pembaca, tetapi sekaligus komentator, penyebar informasi, dan pembentuk opini.

Sebuah peristiwa yang belum sepenuhnya dipahami dapat segera melahirkan berbagai komentar. Tidak sedikit yang bernada sinis, penuh kecurigaan, bahkan menyerang pribadi. Komentar negatif kemudian dibaca orang lain, ditanggapi, dibagikan kembali, lalu berkembang menjadi persepsi baru. Dalam waktu singkat, dugaan dapat berubah seolah-olah menjadi fakta.

Di sinilah pentingnya menyadari bahwa persoalan informasi bukan sekadar mengenai benar atau salahnya sebuah berita. Ada persoalan yang lebih dalam, yakni bagaimana informasi dan cara kita meresponsnya memengaruhi kondisi psikologis.

Ketika seseorang terus-menerus berada dalam lingkungan komunikasi yang dipenuhi kemarahan, sinisme, kecurigaan, dan pertentangan, ruang mentalnya dapat ikut terbebani. Kecemasan meningkat, hubungan sosial menjadi lebih mudah tegang, dan konflik antarpersonal semakin mudah terjadi.

Dalam psikologi, cara seseorang menilai sebuah keadaan (cognitive appraisal) berperan dalam menentukan bagaimana ia merespons tekanan. Peristiwa yang sama dapat dimaknai secara berbeda oleh dua orang dan menghasilkan respons emosional yang berbeda pula. Karena itu, kemampuan mengelola cara berpikir merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan psikologis.

Islam telah memberikan prinsip yang sangat penting dalam menghadapi situasi semacam ini: husnuzan, atau membangun prasangka yang baik dan tidak tergesa-gesa menuduh. Al-Qur'an secara tegas mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa...” (QS. Al-Hujurat: 12).

Ayat tersebut mengajarkan agar manusia tidak tergesa-gesa membangun penilaian berdasarkan dugaan. Dalam kehidupan digital, pesan ini menjadi semakin penting. Membaca satu potongan informasi tidak cukup untuk memahami keseluruhan peristiwa. Melihat satu komentar tidak cukup untuk mengetahui karakter seseorang. Mendengar satu versi cerita tidak cukup untuk menjatuhkan penilaian.

Pesannya sangat dalam. Cara manusia membangun prasangka memiliki konsekuensi terhadap cara ia menjalani kehidupan. Pikiran yang dipenuhi kecurigaan akan membuat dunia terasa penuh ancaman. Sebaliknya, pikiran yang dibangun dengan harapan, kepercayaan, dan keyakinan kepada rahmat Allah memberikan ruang bagi ketenangan.

Optimisme dalam perspektif Islam bukan optimisme kosong. Ia dibangun di atas keyakinan kepada Allah, ikhtiar, kesabaran, dan harapan. Seseorang boleh mengakui kelemahannya, tetapi tidak semestinya menjadikan kelemahan itu alasan untuk berhenti berusaha.

Bahkan dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

Pesan ini mengajarkan pentingnya membangun prasangka yang baik kepada Allah. Dari sana lahir harapan. Dari harapan tumbuh optimisme. Dan dari optimisme muncul keberanian untuk terus berikhtiar.

Literasi digital mengajarkan kita memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan membedakan fakta dengan opini. Literasi batin mengajarkan kita menahan diri sebelum bereaksi, tidak mudah mencurigai, dan tidak tergesa-gesa menghakimi. Sementara husnuzan kepada diri sendiri mengajarkan bahwa kegagalan bukan akhir perjalanan dan kekurangan bukan alasan untuk kehilangan harapan.

Kita boleh berbeda pendapat. Kita boleh mengkritik. Kita boleh mempertanyakan sebuah informasi. Tetapi kritik tidak harus berubah menjadi kebencian. Perbedaan tidak harus menjadi permusuhan. Dan kebebasan berpendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghilangkan akhlak.

Tidak semua yang kita baca harus segera dikomentari. Tidak semua yang kita dengar harus segera dipercaya. Tidak semua kesalahan orang lain harus segera dihakimi. Dan tidak setiap kegagalan diri sendiri harus menjadi alasan untuk menyerah.

Sebab husnuzan bukan hanya cara menjaga hubungan dengan sesama. Ia juga jalan untuk menjaga hati, merawat harapan, dan memelihara jiwa agar tetap waras sehat walafiat. (*) 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
Afif Zamroni gus afif stafsus mendes PDT kecepatan informasi media sosial