SELAMAT JALAN, CAK SHOLEH

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 11:49 WIB
Cak Sholeh, pengacara yang dikenal dengan slogan No Viral No Justice, berpulang.
Cak Sholeh, pengacara yang dikenal dengan slogan No Viral No Justice, berpulang.

Oleh : Widodo, PhD

Suara Lantang yang Kini Tinggal Kenangan

Ada orang yang ketika pergi hanya meninggalkan nama. Ada pula yang meninggalkan jejak.

Cak Sholeh adalah yang kedua.

Kabar wafatnya Muhammad Sholeh, atau yang akrab disapa Cak Sholeh, pada Jumat, 7 Agustus 2026, terasa seperti kehilangan seorang kawan lama. Bukan hanya bagi keluarga dan sahabat, tetapi juga bagi mereka yang pernah mendengar suaranya membela orang kecil, mengkritik ketidakadilan, atau melihat gayanya yang khas Arek Suroboyo: lugas, ceplas-ceplos, dan apa adanya.

Beberapa minggu sebelumnya, ia masih sempat bercanda tentang pipinya yang terlihat semakin tembam. "Kenapa Cak Sholeh kok tambah pipine tembem? Iki gak tambah lemu rek, tapi iki efek obat. Mohon doanya ya."

Kalimat sederhana itu kini terasa begitu dalam.

Saat itu mungkin kita mengira doa masih punya banyak waktu untuk dikirimkan. Ternyata, waktu tidak pernah mau berjanji.

Belum genap sebulan, doa berubah menjadi belasungkawa.

Cak Sholeh pergi.

Dan kita baru sadar, ada suara yang selama ini kita anggap akan selalu ada.

Perjalanan Cak Sholeh tidak dimulai dari ruang sidang yang nyaman.

Ia pernah berada di jalanan, berteriak bersama gerakan mahasiswa menjelang runtuhnya Orde Baru. Pada 1996, ia divonis empat tahun penjara atas tuduhan subversif dan sempat mendekam sekitar satu setengah tahun di Penjara Kalisosok, Surabaya.

Kalisosok mungkin bagi banyak orang hanya nama sebuah penjara tua. Bagi Cak Sholeh, tempat itu adalah bagian dari hidupnya.

Di balik temboknya, ia membaca, berdiskusi, berolahraga, dan menonton televisi bersama narapidana lain. Barangkali di sanalah ia belajar bahwa kebebasan bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa.

Ketika keluar, ia tidak memilih diam.

Medannya saja yang berubah.

Dari jalanan menuju ruang sidang. Dari demonstrasi menuju dunia advokasi. Dari pengeras suara menuju berkas perkara, televisi, YouTube, dan media sosial.

Cak Sholeh kemudian dikenal sebagai advokat yang berani.

Blak-blakan. Lugas. Kadang membuat orang tersenyum, tetapi sering pula membuat pihak yang dikritiknya tidak nyaman.

Ia mendampingi mereka yang merasa hukum terlalu jauh untuk dijangkau.

Lalu melekatlah sebuah kalimat:

"No Viral, No Justice."

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya slogan. Bagi Cak Sholeh, barangkali itu adalah kegelisahan: hukum jangan baru bergerak ketika kamera datang, ketika masyarakat ramai berbicara, ketika sebuah perkara menjadi viral.

Ia ingin hukum bekerja bukan karena seseorang terkenal.

Bukan karena perkara itu ramai.

Melainkan karena memang ada manusia yang membutuhkan keadilan.

Ada jejak Cak Sholeh yang mungkin tidak banyak diingat.

Pada 2008, ia mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi terkait sistem pemilu legislatif. Gugatan itu dikabulkan dan kemudian menjadi bagian dari lahirnya sistem proporsional terbuka pada Pemilu 2009.

Bagi Cak Sholeh, demokrasi bukan sekadar kata indah di atas podium. Demokrasi harus terasa sampai ke tangan rakyat biasa.

Kini semuanya berhenti.

Tidak ada lagi suara Cak Sholeh di jalan.

Tidak ada lagi argumentasinya yang tajam di ruang sidang.

Tidak ada lagi video yang tiba-tiba muncul di media sosial, dengan gaya khasnya, membicarakan hukum dalam bahasa yang mudah dipahami orang awam.

Kita mungkin kehilangan satu video.

Lalu video berikutnya.

Sampai suatu hari kita sadar:

Tidak akan ada video berikutnya.

Di situlah kehilangan terasa paling menyakitkan.

Sebab, kematian bukan hanya tentang seseorang yang tidak lagi bernapas. Kematian adalah ketika foto dan videonya masih ada, nomor teleponnya masih tersimpan, tetapi orangnya tidak akan pernah lagi menjawab ketika kita memanggil.

Cak Sholeh telah pergi.

Namun, ia meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada namanya: keberanian untuk bersuara ketika yang lain memilih diam, keberanian membela yang lemah, dan keyakinan bahwa hukum seharusnya berdiri di sisi keadilan.

Selamat jalan, Cak Sholeh.

Dulu suaramu lantang membelah jalanan Surabaya.

Kini suara itu telah berhenti.

Tetapi mungkin, justru setelah kepergianmu, suara itu akan hidup di kepala banyak orang.

Suara yang mengingatkan:

Jangan biarkan orang kecil berjuang sendirian.

Jangan biarkan keadilan hanya datang kepada mereka yang punya kuasa.

Dan jangan pernah berhenti bersuara hanya karena suara kita kecil.

Selamat jalan, Cak Sholeh.

Istirahatlah dengan tenang.

Perjuanganmu telah selesai.

Sekarang giliran kami yang meneruskannya.

Catatan Tangan Kanan

wiedmust — 070826

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
sholeh pengacara cak sholeh no viral no justice obituari