
Oleh : Widodo, PhD
Suara Lantang yang Kini Tinggal Kenangan
Ada orang yang ketika pergi hanya meninggalkan nama. Ada pula yang meninggalkan jejak.
Cak Sholeh adalah yang kedua.
Kabar wafatnya Muhammad Sholeh, atau yang akrab disapa Cak Sholeh, pada Jumat, 7 Agustus 2026, terasa seperti kehilangan seorang kawan lama. Bukan hanya bagi keluarga dan sahabat, tetapi juga bagi mereka yang pernah mendengar suaranya membela orang kecil, mengkritik ketidakadilan, atau melihat gayanya yang khas Arek Suroboyo: lugas, ceplas-ceplos, dan apa adanya.
Beberapa minggu sebelumnya, ia masih sempat bercanda tentang pipinya yang terlihat semakin tembam. "Kenapa Cak Sholeh kok tambah pipine tembem? Iki gak tambah lemu rek, tapi iki efek obat. Mohon doanya ya."
Kalimat sederhana itu kini terasa begitu dalam.
Saat itu mungkin kita mengira doa masih punya banyak waktu untuk dikirimkan. Ternyata, waktu tidak pernah mau berjanji.
Belum genap sebulan, doa berubah menjadi belasungkawa.
Cak Sholeh pergi.
