Oleh: Dr HM. Afif Zamroni, Lc, MEI
Staf Khusus Mendes dan PDT
CARA beragama hari ini semakin mudah terlihat. Simbol-simbol keagamaan hadir hampir di setiap ruang kehidupan. Ceramah dapat kita dengarkan kapan saja. Ayat dan hadis berseliweran di media sosial. Ungkapan-ungkapan religius menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Bahkan, untuk menunjukkan identitas sebagai orang beragama, seseorang tidak lagi membutuhkan ruang khusus. Cukup melalui satu unggahan, orang lain dapat segera mengetahui bagaimana identitas keagamaannya.
Tentu, tidak ada yang salah dengan semua itu. Agama memang tidak harus disembunyikan. Simbol keagamaan memiliki tempat penting dalam kehidupan umat. Ia menjadi bagian dari identitas, tradisi, sekaligus ekspresi keyakinan seseorang. Namun, ada satu pertanyaan yang barangkali perlu sesekali kita ajukan kepada diri sendiri: apakah semakin terlihat religius selalu berarti semakin baik akhlak kita?
Pertanyaan ini terasa penting karena kita sering menemukan sebuah paradoks. Di satu sisi, ekspresi keagamaan semakin ramai. Di sisi lain, kita masih berhadapan dengan kebohongan, korupsi, permusuhan, kekerasan, dan berbagai persoalan moral lainnya. Rumah ibadah semakin megah, kegiatan keagamaan semakin semarak, tetapi persoalan kemanusiaan tidak serta-merta berkurang.
Tentu tidak adil jika agama kemudian dipersalahkan. Persoalannya mungkin bukan pada ajaran agama, melainkan pada cara kita beragama atau menjalankan agama. Jangan-jangan selama ini agama lebih banyak berhenti pada sesuatu yang tampak, tetapi belum sepenuhnya masuk ke dalam cara kita bersikap.
Kita begitu mudah menilai kesalehan seseorang dari pakaian, bahasa, atau unggahan media sosial. Padahal, kesalehan jauh lebih rumit daripada apa yang terlihat oleh mata. Ada orang yang tidak banyak berbicara tentang agama, tetapi sangat jujur dalam bekerja. Ada yang jarang mengunggah kutipan ayat, tetapi ringan membantu tetangganya. Ada pula yang penampilannya sederhana, tetapi begitu hati-hati menjaga perasaan orang lain.
Sebaliknya, seseorang bisa saja fasih berbicara tentang agama, tetapi masih mudah merendahkan orang lain. Rajin mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi sulit berlaku adil. Gemar membagikan nasihat, tetapi belum mampu menjaga lisannya sendiri. Sekali lagi, ini bukan tentang siapa yang lebih baik, ini bukan tentang orang lain. Ini adalah pertanyaan untuk diri kita sendiri.
Alquran sejak lama mengingatkan bahwa beragama tidak boleh hanya berhenti pada bentuk lahiriah. Dalam Surah Al-Ma’un, Allah SWT bahkan memberikan kritik yang sangat keras terhadap orang yang menjalankan ibadah tetapi kehilangan kepedulian sosial. ”Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma'un: 1–3)
Ayat ini menarik untuk direnungkan. Ketika berbicara tentang orang yang mendustakan agama, Alquran tidak langsung menunjuk kepada orang yang tidak mengenakan simbol keagamaan. Justru yang disebut adalah mereka yang kehilangan kepedulian terhadap manusia di sekitarnya.
Bahkan pada ayat berikutnya, Allah SWT memberikan peringatan kepada orang yang melaksanakan salat.”Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya dan berbuat ria.” (QS. Al-Ma'un: 4–6)
Surah Al-Ma’un seperti sedang mengingatkan bahwa ibadah ritual dan kepedulian sosial tidak boleh dipisahkan. Salat semestinya melahirkan kepekaan. Puasa semestinya menumbuhkan kemampuan menahan diri. Zakat seharusnya mengikis keserakahan. Haji mestinya mengajarkan kesetaraan. Jika ibadah tidak meninggalkan bekas dalam perilaku, mungkin ada sesuatu yang perlu kita periksa kembali.
Rasulullah SAW pernah menceritakan tentang seorang perempuan yang dikenal rajin melakukan ibadah. Ia banyak salat dan berpuasa. Namun, perempuan itu sering menyakiti tetangganya melalui lisannya. Ketika hal tersebut disampaikan kepada Rasulullah, beliau memberikan peringatan yang sangat keras tentang perilakunya.
Kisah ini terasa relevan hingga hari ini. Sebab terkadang kita terlalu sibuk menghitung ibadah yang terlihat, tetapi lupa memperhatikan luka yang mungkin kita tinggalkan dalam kehidupan orang lain.
Agama seharusnya membuat seseorang semakin berhati-hati. Semakin dekat kepada Allah SWT, semestinya semakin lembut cara seseorang memperlakukan manusia. Ilmu agama seharusnya membuat seseorang semakin sadar tentang keterbatasannya, bukan semakin mudah merasa lebih suci dibandingkan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Hadis ini tidak berarti penampilan tidak penting. Islam tetap mengajarkan kebersihan, kesopanan, dan berbagai bentuk kebaikan lahiriah. Namun, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa penilaian Allah SWT jauh melampaui apa yang dapat dilihat oleh manusia.
Masalahnya, kita hidup pada zaman yang sangat mementingkan apa yang terlihat. Media sosial membuat kehidupan seperti panggung yang selalu terbuka. Kita memilih foto terbaik, kalimat terbaik, dan sisi kehidupan terbaik untuk ditampilkan. Tanpa sadar, kebiasaan itu juga dapat merembes dalam kehidupan beragama.
Kebaikan akhirnya tergoda untuk dipertontonkan. Ibadah ingin diketahui. Sedekah ingin didokumentasikan. Bahkan kesalehan perlahan dapat berubah menjadi citra yang harus dirawat.
Tentu kita tidak memiliki hak untuk menuduh niat orang lain. Bisa jadi sebuah kebaikan yang ditampilkan memang bertujuan menginspirasi. Namun, setiap orang tetap perlu menjaga dirinya dari satu penyakit hati yang sangat halus: keinginan untuk terlihat baik di hadapan manusia. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai riya. Sebuah penyakit yang sulit dikenali karena ia dapat hadir justru ketika seseorang sedang melakukan kebaikan.
Karena itu, agama seharusnya selalu menjadi ruang untuk mengoreksi diri. Bukan sekadar identitas yang kita tunjukkan kepada orang lain, melainkan jalan panjang untuk memperbaiki hati dan perilaku.
Barangkali ukuran keberagamaan kita tidak selalu terlihat ketika berada di rumah ibadah. Ukurannya justru sering muncul dalam keadaan yang sederhana: bagaimana kita memperlakukan orang yang lebih lemah, bagaimana kita bersikap ketika memiliki kekuasaan, bagaimana kita menjaga amanah ketika tidak ada yang mengawasi, dan bagaimana kita berbicara tentang orang lain ketika ia tidak berada di hadapan kita. Di situlah agama menemukan maknanya. Sebab, agama bukan hanya tentang bagaimana kita terlihat di hadapan manusia. Agama adalah tentang siapa diri kita ketika tidak ada yang melihat, kecuali Allah SWT.
Maka di tengah semakin ramainya ekspresi keagamaan hari ini, mungkin kita perlu sesekali berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: apakah agama telah benar-benar mengubah cara kita hidup, atau baru mengubah cara kita terlihat? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab kepada siapa pun. Cukup kita jawab dalam hati. (*)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto