Oleh: Dr. H. M. Afif Zamroni, Lc., M.E.I.
Staf Khusus Menteri Desa dan PDT
"Sebagian besar kelelahan kita justru lahir dari seringnya kita membandingkan, bukan dari banyaknya pekerjaan."
Ada satu penyakit zaman yang jarang dibicarakan di mimbar-mimbar keagamaan, tetapi diam-diam dirasakan oleh banyak orang: kelelahan karena harus terus menerus berusaha menjadi yang terhebat.
Setiap hari kita disuguhi cerita heroik dan kisah kesuksesan atau prestasi orang lain. Ada yang berhasil membangun usaha di usia musa, ada yang menempuh pendidikan di luar negeri, ada yang memiliki karir cemerlang, prestasi gemilang dan ada pula yang hidupnya tampak sempurna di media sosial. Tanpa disadari, semua itu kadang akan membentuk pola pikir perlombaan yang tidak akan pernah selesai. Banyak orang merasa hidupnya tertinggal hanya karena membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain.
Akibatnya, semakin banyak orang yang kehilangan kemampuan untuk mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Mereka sibuk mengejar standar yang terus bergerak. ketika satu target tercapai, muncul target baru. Ketika satu impian terwujud, lahir kecemasan baru. Hidup berubah menjadi arena kompetisi yang melelahkan.
Padahal tidak semua kelelahan berasal dari banyaknya pekerjaan. Sebagian kelelahan justru lahir dari banyaknya perbandingan.
Di era media sosial, seseorang bisa melihat pencapaian puluhan bahkan ratusan orang dalam satu hari. Kita melihat keberhasilan mereka, tetapi tidak melihat perjuangan yang mereka lalui. Kita menyaksikan hasil akhirnya, tetapi tidak mengetahui cerita panjang di belakangnya. Yang terlihat hanya puncak gunung, sementara proses mendakinya tersembunyi.
Tidak heran jika banyak orang merasa dirinya kurang berhasil, padahal sebenarnya ia sedang berjalan sesuai kapasitas dan jalan hidup yang telah Allah tetapkan baginya.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa Allah tidak pernah membebani manusia melebihi kemampuannya.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah:286)
Ayat ini seolah mengajarkan bahwa setiap orang memiliki medan perjuangannya masing-masing. Tidak semua harus menjadi pemimpin. Tidak semua orang harus menjadi terkenal. Tidak semua orang harus memiliki pencapaian yang sama. Yang dituntut dari manusia bukanlah menjadi seperti orang lain melainkan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Sayangnya, budaya modern sering kali mengukur nilai manusia dari apa yang terlihat dengan banyak orang. Gelar, jabatan, jumlah pengikut, kendaraan, rumah, handphone atau pencapaian-pencapaian yang dapat dipamerkan. Sementara hal-hal yang sesungguhnya lebih penting seperti kejujuran, kesabaran, ketulusan, dan kebermanfaatan seringkali luput dari perhatian.
Dalam pandangan Islam, ukuran kemuliaan manusia tidak pernah terletak pada popularitas ataupun kekayaan. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini membebaskan manusia dari tekanan untuk selalu terlihat hebat di hadapan sesama. Sebab yang menentukan kemuliaan bukanlah penilaian manusia, melainkan penilaian Allah.
Rasulullah saw. juga mengingatkan: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian atau lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim)
Hadis ini bukan ajakan untuk berhenti berusaha. Islam tetap mendorong umatnya untuk bekerja keras dan berprestasi. Namun Islam juga mengajarkan keseimbangan. Ambisi tidak boleh menghilangkan rasa syukur. Keinginan untuk maju tidak boleh berubah menjadi kegelisahan yang tak berujung.
Barangkali karena itulah banyak orang yang secara materi tampak berhasil tetapi tetap merasa hampa. Mereka mencapai banyak hal, tetapi kehilangan ketenangan. Mereka memperoleh pengakuan, tetapi kehilangan rasa cukup. Mereka terlihat kuat di luar, tetapi lelah di dalam.
Padahal kebahagiaan tidak selalu lahir dari keberhasilan yang besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sederhana: keluarga yang sehat, pekerjaan yang halal, sahabat yang tulus, hati yang tenang, dan kemampuan menikmati apa yang telah Allah berikan hari ini.
DI tengah budaya yang terus mendorong manusia untuk menjadi luar biasa, mungkin kita perlu belajar kembali satu hal yang sering terlupakan: menerima diri sebagai hamba Allah. Hamba yang memiliki keterbatasan, tetapi juga memiliki keunikan. Hamba yang tidak dituntut menjadi orang lain, melainkan dituntut menjalankan amanah hidupnya dengan sebaik-baiknya.
Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk terlihat paling hebat. Hidup adalah perjalanan untuk menjadi lebih baik dari pribadi sendiri di hari kemarin. Dan sering kali, orang yang paling damai bukanlah mereka yang memiliki segalanya, melainkan mereka yang mampu mensyukuri apa yang dimilikinya.
Di zaman yang penuh dengan tuntutan ini, mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak ambisi. Kita membutuhkan lebih banyak syukur. Karena syukur tidak menghentikan langkah manusia menuju masa depan, tetapi membuat perjalanan itu lebih terasa lebih ringan dan bermakna. (*)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto