Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sibuk Menghakimi, Lupa Mengoreksi Diri

Fendy Hermansyah • Kamis, 9 Juli 2026 | 19:58 WIB
Dr HM Afif Zamroni, Lc, MEI, Staf Khusus Menteri Desa & PDT.
Dr HM Afif Zamroni, Lc, MEI, Staf Khusus Menteri Desa & PDT.

Oleh: M. Afif Zamroni

Staf Khusus Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal

ADA satu kebiasaan yang semakin mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari yakni menghakimi. Bukan di ruang sidang, melainkan di ruang-ruang digital. Seseorang melakukan kesalahan, lalu dalam hitungan menit ribuan komentar bermunculan. Ada yang mencela, mengejek, bahkan tidak sedikit yang merasa paling berhak menentukan siapa yang baik dan siapa yang buruk.

Media sosial memang membuat setiap orang memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat. Namun pada saat yang sama, ia juga melahirkan ilusi bahwa setiap persoalan harus segera diberi penilaian. Kita menjadi begitu cepat menyimpulkan, tetapi begitu lambat memahami. Kita lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain daripada bertanya mengapa hal itu terjadi.

Ironisnya, kebiasaan ini perlahan merembes ke kehidupan nyata. Percakapan sehari-hari sering dipenuhi pembahasan tentang keburukan orang lain. Kesalahan seseorang menjadi bahan diskusi yang menarik. Aib orang lain berpindah dari satu grup percakapan ke grup yang lain. Padahal belum tentu semua cerita yang beredar benar adanya.

Dalam tradisi Islam, menjaga lisan dan menjaga penilaian terhadap orang lain merupakan bagian dari akhlak yang sangat ditekankan. Allah SWT berfirman: ’’Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.’’ (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini menarik karena Allah menyebut tiga penyakit sosial sekaligus: berprasangka, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing. Ketiganya sering muncul secara berurutan. Prasangka melahirkan rasa ingin tahu yang berlebihan. Rasa ingin tahu berubah menjadi kebiasaan membuka aib. Setelah aib ditemukan, muncullah gunjingan yang menyebar ke mana-mana.

Padahal tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan. Setiap orang memiliki sisi yang tidak diketahui orang lain. Kita hanya melihat apa yang tampak di permukaan, sementara pergulatan hidup seseorang sering kali tersembunyi dari pandangan kita. Karena itu, penilaian yang terlalu cepat seringkali justru melahirkan ketidakadilan.

Rasulullah SAW pernah bersabda: ’’Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.’’ (HR. Muslim). Hadis ini tidak berarti Islam membenarkan kesalahan atau melarang kritik. Kritik tetap diperlukan, terutama terhadap kemungkaran yang berdampak luas. Namun Islam mengajarkan bahwa tujuan kritik adalah memperbaiki, bukan mempermalukan. Ada perbedaan yang sangat besar antara menegur karena cinta dan menghina karena merasa paling benar.

Sayangnya, budaya digital sering kali mendorong arah yang berbeda. Algoritma media sosial lebih menyukai kemarahan daripada kebijaksanaan. Konten yang penuh celaan lebih cepat menyebar daripada nasihat yang menenangkan. Akibatnya, sebagian orang tanpa sadar menjadikan komentar pedas sebagai bentuk hiburan.

Lebih berbahaya lagi ketika kebiasaan menghakimi membuat seseorang lupa melihat dirinya sendiri. Kita begitu sibuk menghitung kesalahan orang lain, tetapi jarang menghitung kekurangan diri sendiri. Kita hafal dosa orang lain, tetapi lupa bahwa setiap malam kita pun memohon ampun kepada Allah.

Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang tidak pernah melakukan kesalahan. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu saling mengingatkan tanpa saling merendahkan, mampu mengoreksi tanpa menghakimi, dan mampu menegakkan kebenaran tanpa kehilangan kasih sayang.

Di tengah kehidupan yang semakin bising oleh komentar dan penilaian, mungkin kita perlu lebih sering berhenti sejenak sebelum menunjuk kesalahan orang lain. Sebab boleh jadi, dosa yang paling sulit kita lihat bukanlah dosa orang lain, melainkan dosa yang sedang kita bawa sendiri.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seorang muslim yang baik adalah mereka yang membuat orang lain merasa aman dari lisan dan tangannya. Mungkin dari situlah perbaikan sosial harus dimulai: bukan dengan memperbanyak vonis, melainkan dengan memperbanyak introspeksi.

Sebab dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak hakim di media sosial. Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang berani mengoreksi dirinya sendiri. Dari pribadi-pribadi seperti itulah lahir masyarakat yang lebih arif, lebih santun, dan lebih dekat dengan nilai-nilai yang diajarkan Islam. (*)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#stafsus mendes #M. Afif Zamroni #Staf Khusus Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal