Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Strategi Bisnis Menghadapi 2026 yang Penuh Ketidakpastian

Fendy Hermansyah • Rabu, 8 Juli 2026 | 04:25 WIB

 

Oleh: Andiyanto Vino, Founder VAST Business Assistant dan General Manager Icon Mall.
Oleh: Andiyanto Vino, Founder VAST Business Assistant dan General Manager Icon Mall.

 KITA sudah masuk di semester II tahun 2026. Ekonomi global masih melambat. Kompetisi tetap brutal. Tapi, beberapa bisnis justru naik kelas dan tumbuh agresif. Pertanyaannya adalah apa yang mereka lihat, dan apa yang tidak dilihat pemain lain? 

Mari kita bedah secara strategis bagaimana entitas bisnis bisa bertahan di situasi yang serba tidak pasti ini, supaya kita sebagai founder atau business leader tidak cuma ikut arus tapi mengambil posisi yang tepat. Bila dilihat sekilas semester I tahun 2026, peluang ada, tapi tidak untuk yang biasa-biasa saja. 

Proyeksi pertumbuhan indonesia oleh IMF bukan lagi sekitar 5,0% seperti prediksi sebelumnya. Proyeksi IMF untuk Indonesia justru lebih optimistis, yaitu sekitar 5,1% pada 2026. IMF tetap menilai Indonesia sebagai salah satu negara dengan ketahanan ekonomi terbaik di tengah ketidakpastian global.

Pandangan terhadap ekonomi global juga berubah. Awalnya banyak ekonom memperkirakan 3,1%, tetapi pembaruan IMF Januari 2026 menaikkan proyeksi global menjadi sekitar 3,3% karena investasi AI, penyesuaian rantai pasok, dan meredanya sebagian ketegangan perdagangan. Namun, IMF tetap mengingatkan bahwa risiko geopolitik dan kebijakan perdagangan masih tinggi. 

Yang menarik adalah, 2026 ternyata bukan tahun resesi, tetapi tahun ketidakpastian. Artinya, bukan ekonomi jelek, melainkan permintaan masih tumbuh tetapi tidak merata, konsumen semakin selektif, investor semakin berhati-hati, perusahaan semakin menuntut efisiensi. 

Menurut saya, saat ini ekonomi bukan hanya melambat, tetap akan ada pertumbuhan tetapi pertumbuhan murah sudah selesai. Dulu perusahaan bisa tumbuh hanya dengan membuka cabang, menambah iklan, memberi diskon. Sekarang tidak lagi. Saat ini perusahaan harus tumbuh dengan: produktivitas, AI, data, customer experience, dan efisiensi modal. Ini juga sejalan dengan banyak publikasi terbaru dari McKinsey dan IMF yang menunjukkan bahwa investasi AI kini menjadi prioritas strategis, sementara risiko utama bergeser ke geopolitik dan produktivitas. 

Ada beberapa insight yang saya dapatkan yang hampir semua lembaga besar sepakati baik McKinsey, Bain & Company, Harvard Business Review, Forbes, sampai IMF, di antaranya adalah, pertama, winning companies bukan lagi yang paling besar, melainkan yang paling cepat belajar, paling cepat bereksperimen, serta paling cepat beradaptasi dan berubah. 

McKinsey berkali-kali menyebut bahwa perusahaan yang mampu mengalokasikan sumber daya lebih cepat daripada kompetitor menghasilkan pertumbuhan jauh lebih tinggi dibanding perusahaan yang lambat mengambil keputusan. Kedua, customer semakin value conscious. Bukan berarti pelanggan hanya mencari murah. Mereka bertanya: Apakah produk ini benar-benar layak saya beli?”. Makanya yang menang justru yang kualitasnya naik, pelayanannya naik, pengalaman naik, dan bukan sekadar memberikan diskon.

Ketika, middle market adalah medan perang terbesar. Perusahaan premium tetap punya pelanggan. Sementara perusahaan murah tetap ada pasarnya. Menurut saya yang paling tertekan justru perusahaan biasa-biasa saja. Mereka menjual barang/jasa tidak murah, tidak premium dan juga tidak punya diferensiasi. Inilah yang disebut banyak pakar sebagai fenomena middle squeeze. 

Setidaknya ada lima pilar strategi bertahan yang paling penting. Meliputi, defend cash, yang targetnya bukan sekadar laba tetapi juga soal likuiditas. Bagaimana perusahaan mampu memiliki uang cash untuk kebutuhan operasional harian perusahaan. Ini penting karena likuiditas mampu menjaga cash flow perusahaan agar bisa bertahan lebih lama. 

Kedua, build productivity. Bagaimana pekerjaan yang sama selesai dengan AI tanpa perlu menambah orang sehingga produktivitas menjadi keunggulan kompetitif. 

Ketiga, own customer. Banyak bisnis masih bergantung pada marketplace. Padahal aset sebenarnya adalah database pelanggan, membership, loyalty program, dan CRM (customer relationship management). Perusahaan yang memiliki data pelanggan akan lebih tahan terhadap perubahan algoritma platform. Keempat, differentiate/diferensiasi. Tahun 2026 bukan zamannya menjadi cukup bagus”. Namun, harus jelas: tercepat, termurah, terbaik, paling nyaman, dan paling premium. Kalau tidak punya positioning yang jelas, margin akan terus turun. 

Kelima, build optionality. Ini sering muncul dalam strategi perusahaan kelas dunia. Jangan hanya punya satu sumber pendapatan. Misalnya, perusahaan bisa create somthing new untuk bisa menghasilkan revenue. 2026 bukan tentang bertahan dari perlambatan ekonomi. Ini adalah tahun ketika perusahaan dipaksa memilih: menjadi lebih produktif, lebih cerdas memanfaatkan AI, dan lebih dekat dengan pelanggan atau perlahan kehilangan daya saing. (*)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#tahun ketidakpastian #ekonomi global #Strategi bisnis