Oleh: Fatharani Nurwahyu Fajria, Langgeng Dwi Hantoyo, Supriyanto*
*Mahasiswa Magister Ekonomi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Surabaya
DI balik jutaan usaha mikro yang tumbuh di Indonesia, ada peran perempuan yang sering luput dari perhatian. Mereka mengelola usaha rumahan, menjalankan toko daring, memasarkan produk melalui media sosial, sekaligus mengatur keuangan keluarga. Bagi banyak rumah tangga, perempuan bukan sekadar pencari nafkah tambahan, melainkan penggerak utama aktivitas ekonomi.
Peran itu kini memasuki babak baru. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah cara pelaku usaha bekerja. Membuat materi promosi, menyusun laporan sederhana, membaca tren pasar, hingga melayani pelanggan kini semakin mudah dilakukan dengan bantuan teknologi. Perubahan yang sebelumnya diperkirakan berlangsung dalam hitungan tahun, kini terjadi hanya dalam beberapa bulan.
Ketika teknologi semakin mudah diakses oleh siapa saja, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki aplikasi paling canggih. Tapi tentang siapa yang mampu mengubahnya menjadi produktivitas dan peluang usaha.
Pada aras ini, transformasi digital tidak lagi cukup berhenti pada pembangunan infrastruktur atau perluasan akses internet. Pada tataran ini, kita perlu memastikan kualitas sumber daya manusia berkembang sejalan dengan perkembangan teknologinya.
Dan di antara berbagai kelompok yang perlu mendapat perhatian, perempuan menempati posisi yang sangat strategis. Bukan tanpa alasan. Sebagian besar pelaku UMKM di Indonesia melibatkan perempuan, baik sebagai pemilik usaha maupun pengelola operasional. Mereka hadir dalam usaha kuliner, fashion, kerajinan, perdagangan, hingga berbagai bisnis berbasis digital. Ketika kapasitas mereka meningkat, manfaatnya tidak berhenti pada kenaikan pendapatan usaha. Produktivitas keluarga ikut membaik, kualitas pengelolaan keuangan meningkat, dan investasi terhadap pendidikan anak pun semakin kuat.
Sayangnya, pemberdayaan perempuan di era digital masih sering dimaknai sebatas perluasan akses terhadap teknologi. Ukurannya adalah berapa banyak yang memiliki telepon pintar atau tersambung ke internet. Padahal, tantangan hari ini sudah berubah. Persoalannya bukan lagi akses, melainkan kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan nilai tambah.
Artinya, pembangunan SDM perempuan tidak cukup berhenti pada literasi digital. Yang dibutuhkan adalah penguatan kapasitas agar perempuan mampu memanfaatkan digital untuk meningkatkan efisiensi usaha, memperluas pasar, dan menciptakan inovasi.
Pada akhirnya, daya saing Indonesia di era digital bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi hadir di tengah masyarakat. Lebih dalam dari itu, kesiapan manusia dalam memanfaatkan menjadi fondasi utama dalam era ini.
Bicara soal tujuan dalam memperkuat fondasi ekonomi dari tingkat rumah tangga hingga UMKM, maka investasi pada kualitas SDM perempuan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.