PESANTREN didefinisikan sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam yang mempelajari, memahami, menghayati, dan juga mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan menitikberatkan agama sebagai pedoman dalam berperilaku sehari-hari (Munayah dan Sita, 2024).
Pelaksanaan pendidikan pesantren memiliki andil yang cukup besar dalam menyumbang pemikiran dan perkembangan dalam pendidikan Islam. Dalam implementasinya, pesantren menjalankan aktivitas pendidikan yang di dalamnya terdapat nilai-nilai, norma, dan kebiasaan eksklusif. Sehingga dapat mencetak generasi yang ahli dalam bidang agama sekaligus manusia yang beradab (Muthma’innah, 2021).
Eksistensi pesantren yang menekankan pengajaran ilmu agama dengan pendekatan holistik diharapkan memberikan kontribusi nilai luhur dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia. Karakteristik pesantren yang berupa salat berjamaah, pengajian kitab kuning, dan pembinaan akhlak yang melekat pada setiap kegiatan memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter generasi muda.
Artikel ini bertujuan untuk menggali peran Pesantren Nurul Islam dalam membentuk karakter calon kader Islam Indonesia dengan fokus aspek moral, etika, dan kepemimpinan. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi dalam mengembangkan sistem pendidikan karakter di Indonesia. Selain itu, juga dapat memberikan pemahaman terkait relevansi pesantren di tengah tantangan global.
Pondok Pesantren Nurul Islam merupakan salah satu jenis pesantren komprehensif, yang mana mengolaborasikan antara pendidikan tradisional dan modern. Dengan perpaduan tersebut, Pondok Pesantren Nurul Islam mampu mencetak generasi yang tidak hanya berkarakter relgius, tetapi juga adaptif terhadap tantangan yang seiring dengan perkembangan zaman. Dalam implementasinya, Pondok Pesantren Nurul Islam mewujudkan kedua model pendekatan tersebut melalui kajian kitab kuning yang berperan sebagai fondasi keilmuan klasik dan pengembangan kurikulum umum dengan pembelajaran berbasis teknologi sebagai pembinaan keterampilan abad 21.
Di era globalisasi yang berkembang pesat, pengaruh dari media sosial, teknologi, dan budaya asing seringkali menguji ketahanan karakter generasi muda. Akibat pengaruh dari globalisasi menjadikan generasi muda banyak yang terpapar gaya hidup dan nilai-nilai yang bertentangan dengan moral dan agama. Adanya situasi tersebut menuntut lembaga pendidikan, khususnya pesantren lebih responsif dalam membentuk karakter generasi muda (Baroroh dan Abdul, 2025).
Di tengah-tengah arus modernisasi, pesantren dipercaya sebagai lembaga yang mampu menanamkan nilai-nilai Islami. Proses internalisasi nilai tersebut dapat dilakukan dengan beberapa tahapan (Munayah dan Sita, 2024), di antaranya sebagai berikut. Transformasi nilai, yaitu kegiatan yang mana sang kiai membentuk persepsi baik mupun buruk santrinya. Transaksi nilai, yaitu proses pertukaran, penanaman, dan pewarisan nilai-nilai positif dari kiai kepada santri maupun antar sesama santri dalam berbagai aktivitas di pesantren.
Trans-internalisasi nilai, proses penyampaian dan penghayatan nilai-nilai dari pendidik kepada santri melalui interaksi, sehingga nilai tersebut menjadi bagian dari perilaku santri sehari-hari. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Pondok Pesantren Nurul Islam telah mampu menjalankan fungsi pendidikan karakter secara efektif melalui integrasi nilai-nilai keagaaman, pembiasaan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, dan penguatan lingkungan sosial. Hal ini dapat tercermin dalam kegiatan kepesantrenan yang berorientasi pada pembentukan akhlak dan moral, seperti salat berjamaah dan pengajian kitab kuning.
Penelitian tersebut selaras dengan praktik pembelajaran di Pondok Pesantren Nurul Islam yang menerapkan nilai-nilai kesantrian, di antaranya yaitu: Keikhlasan, semua yang dilakukan semata-mata untuk ibadah dan tidak mengarapkan keuntungan apapun. Dalam lingkungan Pondok Pesantern Nurul Islam, nilai ini tercermin dalam seluruh kegiatan dan kehidupan di lingkungan pesantren. Para guru mengajar dengan hati yang ikhlas, begitu pula santri yang mengikuti kegiatan belajar dengan keikhlasan. Hal ini dapat menciptakan suasa pesantren yang tulus dan saling mendukung.
Kesederhanaan, sederhana bukan berarti tidak mampu. Hidup sederhana justru menunjukka kekuatan, ketabahan, dan kemampuan mengendalikan diri saat menghadapi berbagai kesulitan. Selain itu, kesederhanaan juga dapat membentuk mental dan karakter yang kuat. Sehingga dapat menjadi bekal santri dalam meraih keberhasilan hidup.
Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), nilai berdikari bermakna bahwa tidak hanya belajar dalam mengurus kebutuhan sendiri, tetapi juga mengajarkan santri untuk tidak bergantung pada orang lain dalam menjalankan kegiatan sehari-hari di pesantren. Ukhwah Islamiyah, dari pengalaman hidup di pesantren yang kental dengan persaudaraan dan kebersamaan. Hal tersebut membantu santri belajar saling menghargai, tolong-menolong, dan membangun hubungan baik dengan orang lain. Lingkungan yang akrab menjdikan santri terbiasa hidup rukun dan memahami pentingnya kebersamaan.
Kebebasan, santri diberi kebebasan berpikir dan menentukan pilihan hidupnya di masa depan. Akan tetapi, kebebasan tersebut tetap harus bermakna positif dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Dari proses inilah jiwa santri dibentuk, dipelihara, dan dikembangkan dengan baik. Sehingga mereka siap menghadapi berbagai tantangan dan tuntutan dalam kehidupan bermasyarakat.
(*)
*) Siswa 12 Social Class MA Nurul Islam Mojokerto di bawah bimbingan Adis Aditya Nuzulia Rohmah, S.Pd.
Editor : Hendra Junaedi