Di tengah ramainya pertumbuhan kafe dan restoran berkonsep modern di Kota Malang, terdapat sebuah warung sederhana bernama Nasi Goreng Boskoe di kawasan Titan Asri, Pandanwangi.
Dari dapur yang tidak besar dan peralatan yang sederhana, lahir sebuah kisah ketekunan yang menghangatkan hati. Pak Sigit dan istrinya, Bu Chodijatus Solehah, memulai usaha ini dengan modal hanya Rp 2 juta. Modal tersebut digunakan untuk membeli wajan, kompor, bahan baku awal, dan sebagian lagi untuk membangun keyakinan, bahwa usaha kecil sekalipun berhak bertumbuh dengan penuh harapan.
Mereka tidak tersorot lampu sorot media atau gemerlap promosi digital, tetapi mereka percaya bahwa konsistensi rasa dan ketulusan pelayanan akan menemukan jalannya sendiri. ”Selama ada niat baik, rezeki itu akan mengikuti,” ujar Pak Sigit dengan senyum yang penuh ketenangan.
Belajar Manajemen yang Hidup
Sebagai mahasiswa Pascasarjana S-2 Manajemen Universitas Negeri Malang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, kami datang bukan sekadar untuk mengerjakan tugas lapangan. Kami datang untuk melihat bagaimana teori benar-benar bekerja ketika bertemu kenyataan hidup.
Dalam mata kuliah Pengembangan Wawasan Manajerial, kami mendapatkan bimbingan langsung dari Dr. Agus Hermawan, GradDipMgt, M.Si, M.Bus dan Prof. Dr. Agung Winarno, MM. Beliaulah yang berjasa besar dalam perjalanan tugas ini bukan hanya mengarahkan teknis pendampingan UMKM, tetapi juga membentuk cara pandang kami tentang bagaimana ilmu manajemen seharusnya membumi: menyentuh masyarakat, menguatkan yang kecil, dan memberdayakan yang sedang berjuang.
Kolaborasi Belajar yang Saling Menguatkan
Pendampingan kami meliputi: penyusunan pembukuan manual dan digital sederhana, pembuatan desain menu dan identitas usaha, pendokumentasian dan pembuatan konten media sosial, perbaikan pola layanan dan strategi promosi. Kami tidak datang sebagai “ahli”, tetapi sebagai mitra belajar.
Pak Sigit dan Bu Sigit berbagi pengalaman tentang keteguhan dan kesabaran. Sementara kami memberikan kontribusi melalui pemahaman manajemen dan teknologi sederhana. Dari sinilah tercipta pertukaran pengetahuan yang saling menguatkan.
Dari Wajan Panas, Kami Melihat Denyut Ekonomi Rakyat
UMKM seperti Nasi Goreng Boskoe adalah pusat kehidupan ekonomi masyarakat. Tanpa banyak sorotan, tanpa publikasi besar, merekalah yang menjaga roda perekonomian tetap bergerak. Dari dapur sederhana itu, kami belajar bahwa: pembangunan bukan hanya tentang proyek besar berskala nasional, tetapi dimulai dari ruang-ruang kecil penuh ketulusan. Kekuatan ekonomi bangsa sesungguhnya lahir dari keluarga-keluarga yang berani memulai langkah pertama, meski dari modal kecil.
Penutup
Nasi Goreng Boskoe bisa dipesan secara online (Grab, Gofood, Shopeefood, dan WA (0877 8967 1633)) dan offline (Titan Asri 10 blok I Nomor 1, Pandanwangi, Kota Malang ). Nasi Goreng Boskoe bukan sekadar tempat makan. Ia adalah potret perjuangan, ketekunan, dan harapan yang sederhana namun kuat. Dan bagi kami, mahasiswa Pascasarjana S-2 Manajemen Universitas Negeri Malang, warung ini menjadi ruang belajar yang paling nyata.
Kami pulang dengan satu pelajaran yang akan kami ingat dan bawa jauh dalam perjalanan hidup: keberhasilan tidak diukur dari besar kecilnya modal, tetapi dari keberanian untuk bertahan dan terus melangkah. (*)
*)Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Program Studi S-2 Manajemen.
Editor : Hendra Junaedi