Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Esai Idul Adha: Pengorbanan, Cinta Nabi Ibrahim

Indah Oceananda • Kamis, 5 Juni 2025 | 16:05 WIB
Supriyadi Karima Saiful
Supriyadi Karima Saiful

MEMBACA (kembali) Ibrahim-dari namanya yang memiliki arti ayah yang penyayang – bukan hanya mengeja kisah-kisah yang menggetarkan: bagaimana Ibrahim menghadapi api pembakaran; secara berani beliau menghancurkan berhala Namrudz, simbol kekuasaan rezim tiran, penyebab ia dibakar dalam gejolak api, sehingga Jibril as menyempatkan diri untuk berusaha menolongnya, namun apa jawab beliau, ’’Dia telah mengetahui kesemuanya, Anda tidak perlu bersusah payah menolongku!’’; Ibrahim yakin, di atas api pembakaran, Tuhan tidak akan meninggalkannya - sang nabi memilih dilalap api.

Kisah Ibrahim meninggalkan istri yang dicintai dan anak yang masih bayi merah di padang tandus yang tak berpenghuni dan hanya dibekali tempat makanan berisi kurma dan tempat minum berisi air adalah kisah cinta yang tak terdefinisi. Kala bayi merah itu beranjak remaja, Ibrahim beranjak menunaikan titah menuju tempat pengorbanan harta yang paling berharga: menyembelih Ismail, anaknya, buah hati yang sangat dicintainya, yang Ia dapatkan setelah menunggu lama.

Tak pernah terlintas dalam benak Ibrahim untuk menyoal dan mempermasalahkan keputusan Tuhan. Tak pernah dia bertanya. Malah dengan sangat bijak, lembut, dan penuh kasih, dia ceritakan perihal wahyu tersebut pada Ismail: ’’Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ’’Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’’ Ia menjawab: ’’Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,’’ (QS. As-Shaffat: 102)

Sekelumit kisah dan diskusi pendek seorang ayah dengan anak semata wayangnya yang diabadikan dalam Al-Quran; sebuah perbincangan yang mengharukan dari seorang bapak kepada anaknya; singkat, tapi kita bisa merasakan betapa semuanya memang lahir dari ketulusan.

Dalam kesejarahan manusia, cinta bukanlah hal baru, tapi uniknya, ia tak pernah basi dibicarakan. Sejak zaman manusia mengenal kehidupan, sampai sekarang, bahkan sampai kiamat sekalipun cinta akan selalu menarik dibahas: cinta adalah pembunuh, cinta adalah penderitaan, cinta adalah buta, cinta adalah… adalah… dan seterusnya… Demikian manusia mendefinisikan dan mempersepsikan cinta semata-mata menurut yang mereka rasa, pengalaman pribadi maupun orang lain. Namun tak ada satupun definisi atau persepsi tentang cinta yang cukup mampu menyingkap kesejatian dan menjelaskan maknanya yang terdalam. Cinta memang hanya bisa dimengerti sebagai proses. Ia tak pernah bisa dipotret utuh. Jalaluddin Rumi, sufi yang paling masyhur, mengungkapkan pengertian itu, menyebutnya ’’Ishq’’. Cinta adalah ’’laut ke-Tak-Ada-an,’’ kata Rumi; tabir kerahasiaan selalu mengerudunginya; ’’Apa pun yang kau katakan atau lakukan untuk menanggalkan tabir itu, kau akan menambahkan selapis tabir lagi di atasnya.’’

Maka cinta tak akan bisa hidup bersama perhitungan untung-rugi. Cinta juga tak bisa menerima doktrin yang membekukan pikiran dan perasaan, doktrin yang ampuh untuk mengukuhkan kekuasaan. Cinta berani lepas dari itu semua. Ia mengembara, mencari terus-menerus, mencoba memasuki misteri yang dihadirkan Tuhan. Cinta Ibrahim yang telah berabad-abad menjadi kisah ini memang membingungkan dan tak bisa dirumuskannya dengan nalar-karena, memang, cinta bukan bagian dari yang secara konseptual kita ketahui. Dalam gagasan Rumi, cinta adalah kubu yang berlawanan dengan nalar, sementara nalar sibuk menerangi ruang dan meraih dunia, cinta punya hidup dan aktivitasnya sendiri: ’’Menemui cinta, nalar lumpuh kakinya. Nalar menegakkan pasar dan mulai berdagang, cinta menyimpan kerja dalam persembunyian,’’ kata Rumi.

Begitu tingginya derajat cinta Ibrahim a.s. di sisi Allah, sehingga Allah SWT tidak ragu untuk menjadikan Ibrahim sebagai teman kesayangan-Nya. Betapa layak gelar yang disandang beliau: Khalilullah (kekasih Allah) - pada permulaannya, gelar spektakuler itu dicurigai oleh para malaikat sebagai predikat karbitan, sehingga mereka menanyakan sendiri kepada Allah SWT. Berfirman: “Dan Allah SWT mengambil Ibrahim menjadi teman kesayangan-Nya (khalilullah).” (QS. An-Nisa: 125)

Sebagai hamba, Ibrahim telah mengajari kita tentang cinta dan cara menempatkannya secara tepat dan benar, membedakan cinta kepada Allah SWT dengan makhluk-Nya. Sekuat dan sebesar apa pun cinta kepada makhluk, tak pernah sedikit pun membuat Ibrahim terlena, buta, lupa, apalagi mengabaikan perintah-Nya. Dia berhasil menghadirkan Tuhan dalam jiwa dan hatinya.

Membuka lembar-lembar kisah Ibrahim adalah menyaksikan bagaimana cinta dikorbankan kepada apa yang diyakininya sebagai perintah Tuhan. Membaca Ibrahim dan keluarganya adalah membuka cerita akan totalitas kepatuhan, kepasrahan seorang hamba pada Tuhannya. Kisah manusia-manusia mulia ini memberikan tauladan bagaimana sebuah peradaban tercipta dengan cinta, kepatuhan, dan kepasrahan kepada Tuhan; keimanannya ditebus dengan pengorbanan. (*)

Editor : Hendra Junaedi
#Kisah Para Nabi #nabi ibrahim sembelih ismail #Nabi Ibrahim as