Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Membangun Pribadi Sukses

Fendy Hermansyah • Jumat, 21 Maret 2025 | 15:15 WIB

 

Oleh : Sugiyanto  Anggota DPRD Kota Mojokerto
Oleh : Sugiyanto Anggota DPRD Kota Mojokerto

 

 DALAM tulisan ini izinkan saya berbagi sedikit pengalaman dalam membangun kesuksesan seorang pemimpin (leader). Saat itu, satu ruangan kelas pelatihan hadir kurang lebih lima puluh orang karyawan yang sudah siap menerima materi pelatihan tentang kepemimpinan atau dasar leadership.

Tentunya saya bukanlah orang yang paling tepat di perusahaan tempat saya bekerja untuk menyampaikan materi itu jika dilihat dari sisi pendidikan formal yang pas- pasan. Tetapi pengalaman bergaul dengan berbagai kalangan dan kesukaan saya berorganisasi telah membentuk menjadi pribadi yang layak dipercaya untuk menyampaikan materi ini.

Seperti biasa saya mencoba mengawali materi dengan sebuah pertanyaan ’’Apa menurut saudara karakter atau sifat yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin?’’. Dan mereka serentak menjawab, ’’karaker yang baik’’. Kemudian beberapa orang saya minta menulis masing-masing pendapatnya tentang kebaikan yang dimaksud di kertas putih yang ditempel di papan flip chart di depan kelas.

Tentu saja masing-masing punya pendapat yang beragam. Ada yang menulis di antaranya jujur, amanah, bertanggung jawab, loyal, disiplin, sabar, pandai, terampil, memberi solusi, membimbing anak buah, mau belajar, sifat terbuka menerima masukan anak buah dan dan puluhan kata lain-lain yang muncul.

Singkat kata, setiap orang mengharap pemimpinnya adalah orang yang baik dan sempurna. Dari harapan-harapan ini juga dapat menjadi refleksi setiap orang yang memiliki ambisi berlebihan untuk menjadi pemimpin ’’sudah pantaskah aku memimpin?’’.

Pada dasarnya, semua harapan sifat atau karakter yang dianggap baik itu dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar. Yaitu kelompok karakter spiritual yang kecenderungan dari sifat atau karakter spiritual ini adalah disukai banyak orang. Di mana unsurnya adalah amanah, jujur, tanggung jawab, disiplin dan lain-lain yang lebih bersifat ruhaniah.

Sedangkan kelompok kedua yaitu sifat atau karakter profesional atau sifat yang memiliki kencenderungan dibutuhkan banyak orang. Misalnya pintar, terampil, tekun, inovatif, problem solver dan ungkapan lain yang orientasinya kepada kualitas dan kuantitas hasil karyanya yakni melebihi ekspektasi sebagian besar atau rata-rata banyak orang.

Jadi, jika disimpulkan secara sederhana apabila seseorang ingin sukses memimpin jadilah seseorang yang memiliki karakter disukai banyak orang dan dibutuhkan banyak orang. Sudah barang tentu hal ini tidak mudah, meskipun setiap pemimpin sudah berusaha keras memenuhi kedua karakter ini. Tetapi paling tidak setiap pribadi pemimpin tidak boleh lepas dari usaha mendekati dua karakter ini, dengan cara melatih diri secara berkelanjutan.

Momen puasa Ramadan adalah salah satu bentuk latihan diri sebagaimana yang sering disampaikan dalam ceramah para ulama dan ustaz serta ustazah dalam konteks membentuk pribadi yang bertakwa. Sifat takwa adalah rumah besar dari pribadi berkarakter spiritual.

Tetapi, menurut saya ceramah atau pesan itu hanya berpengaruh sepertiga bagian dari proses membentuk karakter spiritual itu. Sepertiga bagian kedua yaitu apabila seseorang itu memahami secara mendalam dan mengimplementasikan dalam kehidupan yang nyata.

Dan sepertiga bagian berikutnya adalah istiqamah atau mempraktikkan pengetahuan secara berkelanjutan sehingga menjadi kebiasaan yang tertanam dalam alam bawah sadar. Sehingga jika ada dorongan untuk berbuat yang tidak baik, ada penolakan kuat dari dalam diri orang tersebut sehingga perbuatan buruk tidak terjadi.

Oleh karena itu, pertanyaan besarnya adalah apakah puasa dalam arti menahan nafsu dan menghindarkan diri dari sifat-sifat yang dilarang oleh syariat ataupun norma sosial yang tumbuh di masyarakat akan berakhir ketika Ramadan selesai ?, hanya anda sendiri yang mampu menjawab secara tepat.

Karakter profesional atau sifat yang dibutuhkan banyak orang akan lebih tampak dan terukur dari output kinerjanya melalui hasil secara kuantitas maupun kualitas. Hal ini lebih menunjukkan ekspresi kecintaan dan kesungguhan seseorang dalam menjalankan pekerjaan.

Secara fisik seorang berkarakter profesional bisa diamati melalui tata bahasa. Yaitu tentang bagaimana orang itu berkomunikasi verbal secara efektif dengan orang lain. Kedua, tata gaya yang dapat dibaca dari bahasa tubuh saat ber interaksi dengan sosial atau lebih dikenal sebagai attitude. Juga tata busana tentang bagaimana seseorang berpenampilan bukan hanya sekedar busana yang dipakai tetapi juga lebih kepada etika dan estetika sosial. Dan terakhir adalah tata kelola, yaitu bagaimana seseorang mengelola waktu dan pekerjaan secara cermat sehinga hasil maksimal selalu bisa dicapai. Inilah yang biasa disebut exellent service.

Kesimpulan penutup adalah ketika sesorang memiliki kedua sifat atau karakter sprititual dan karakter profesional, maka kesuksesan akan lebih mudah dicapai di manapun dia berada. Karena dengan disukai banyak orang dia akan mudah membangun relasi atau silaturahmi. Yang mana di sana ada keberkahan panjang umur dan keberkahan rezeki dan dengan karakter dibutuhkan banyak orang bukan hanya kesempatan berbuat baik menolong orang banyak tetapi juga berhak untuk dihargai lebih besar baik imbalan materi maupun jabatan.

Saya selalu teringat kata-kata bijak, ’’jika hari ini kalian mendapat upah lebih besar dari hasil yang kalian kerjakan, Allah tahu cara mengambilnya dari kalian. Tetapi jika upah yang kamu terima lebih kecil dari hasil yang yang kalian kerjakan Allah lebih tahu cara menambahkan untuk kalian.’’ Semoga bermanfaat. (*)

Editor : Hendra Junaedi
#leadership #disiplin #profesional #berkarakter