- Kepala KUA Kecamatan Dawarblandong
- Sekretaris Umum DP MUI Kabupaten Mojokerto
SUDAH memasuki sepertiga kedua perjalanan ibadah puasa Ramadan 1446 H/2025 M. Kondisi tubuh sudah mulai auto adaptasi dengan pola puasa yang kita jalani. Dampak secara fisik dan nonfisik mulai terasa.
Puasa yang berkualitas tentu berdampak dan memberi manfaat pada seseorang baik hissiyyah (fisik) maupun manawiyyah (nonfisik).
Manfaat dan implikasi ibadah puasa bagi kualitas ketakwaan seseorang itu meliputi beberapa aspek: Mendidik manusia memiliki jiwa takut kepada Allah SWT dalam kondisi apa pun (fii al-sirri wa al-alan). Merasakan bahwa ada yang selalu memonitor dan mengawasi dalam seluruh gerak hidupnya, yakni Allah SWT.
Memiliki rasa ”malu” kepada Allah SWT, serta dapat membentuk sikap segera kembali atau taubat kepada Allah SWT tatkala berbuat dosa.
Surah Al Araf ayat 201 juz 9:
”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, jika mereka dibayang-bayangi atau ditimpa pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat (kepada Allah). Maka, seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)”.
Menghancurkan serangan syahwat yang bertubi-tubi yang mengerikan jika dituruti. Puasa itu benteng dan perisai yang kukuh (Al-Shiyamu Junnatun). Dengan berpuasa seseorang dapat membentengi diri dari bisikan serta bujuk rayu setan.
Surat An Nur ayat 21 Juz 18: ”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti jejak langkah setan. Siapa yang mengikuti jejak langkah setan, maka sesungguhnya dia (setan) menyuruh (manusia mengerjakan perbuaan) yang keji dan mungkar”.
Pesan Nabi Muhammad SAW: Sesungguhnya setan masuk kedalam jiwa anak cucu adam melalui tempat mengalirnya darah. Maka sempitkanlah jalan masuknya dengan haus dan lapar (puasa).
Membangun kepekaan sosial dan solidaritas sehingga puasa bisa menimbulkan sikap empati dan punya kasih sayang terhadap orang lain. Bila puasanya berkualitas, niscaya tidak akan ada korupsi di negeri tercinta ini.
Korupsi terjadi karena para pelakunya tidak punya jiwa kasih sayang dan empati terhadap sesama. Sehingga mereka lancang untuk menggarong uang negara dan hak rakyat yang bukan haknya.
Puasa mampu merealisasikan prinsip egalitarianisme (persamaan derajat: al-wasaawah). Kewajiban menunaikan puasa tidak memandang status sosial apa pun. Yang kaya, miskin, pejabat atau rakyat sama.
Memperbarui kebugaran tubuh dan fisik menjadi lebih sehat. Pesan Nabi: ”Shuumuu tashihhu”. Itu semua implikasi secara fisik dan harus didukung dengan sifat-sifat mulia (al-akhlaq al-mahmudah) seperti menjaga mata, lisan, mulut, telinga dan anggota badan lainnya dari perbuatan dosa.
Maka puasanya dapat memberi dampak positif konstruktif terhadap kepribadian seseorang menjadi pribadi yang takwa, salih dan akram. Wallahu a’lam bhisawab. (*)
Editor : Hendra Junaedi