Oleh : Dr. H. Akhmad Jazuli Aziz, SH, MSi Pengasuh Ponpes Al Amin dan Al Khodijah yang juga Asisten Administrasi Umum Sekdaprov Jatim
MANUSIA sebagai makhluk sosial sekaligus kholifah di muka bumi diberi oleh Allah SWT akal dan nafsu. Jika akal yang mendominasi dalam diri manusia, maka dia menjadi hamba Allah yang mulia. Sebaliknya, jika manusia didominasi atau dikendalikan nafsunya maka dia lebih jelek dari binatang.
Di era madern manusia banyak hidup hedonisme. Mementingkan dunia. Sehingga sering mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dengan menghalalkan segala cara demi kepentingan sesaat. ”Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS.Yusuf 153).
Tidak sedikit manusia karena hawa nafsunya menjadi sombong, takabur, tamak, rakus, ingin kaya, dihargai orang, iri, dengki dan seterusnya. Untuk mencapai ambisinya manusia ada yang menjual diri, berjudi, menipu, merampok, membunuh dan sebagainya. Sehingga hilang nilai kemanusiaannya.
Puasa merupakan cara Allah untuk memanusiakan manusia. Dengan puasa jasmani akan menjadi sehat. Sabda Nabi Muhammad SAW: Shumu tashihhu. ”Berpuasalah kamu sekalian niscaya kamu akan sehat”. Karena kolestrol, lemak dll terbakar dan organ tubuh pencerna makanan bisa istirahat.
Puasa secara rohani menjadikan pribadi yang jujur walau tidak ada orang tidak akan makan dan minum karena merasa diawasi Allah SWT. Puasa membentuk pribadi disiplin. Seseorang berhenti makan dan minum saat azan Subuh atau saat waktu imsak. Demikian juga dia disiplin tidak akan buka walau Maghrib kurang satu menit.
Puasa menumbuhkan kepekaan sosial. Dengan perut lapar seseorang bisa merasakan betapa susahnya orang miskin yang tidak bisa memberi nafkah kepada anak dan istrinya. Nilai-nilai ajaran puasa, menjaga kesehatan, kejujuran, kedisiplinan, kepekaan sosial dan keikhlasan harus diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar tercipta negeri yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur. Wallahu a'lam bisshawab. (*)