Pada saat ini, masih banyak warga asing yang menetap di Mojokerto, terutama di kawasan industri yang terletak di Kecamatan Ngoro. Fenomena ini mulai terlihat sejak tahun 2007, yang menandai bangkitnya kawasan industri di Kecamatan Ngoro.
Kawasan ini menarik perhatian warga asing dari berbagai negara. Seperti China, Korea, Jepang, dan Tiongkok, untuk datang dan menetap di Mojokerto. Keberadaan kawasan industri tersebut telah memberikan dampak yang signifikan terhadap dinamika sosial dan ekonomi di wilayah ini.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi ketertarikan warga asing maupun tenaga kerja dari luar daerah untuk datang ke Mojokerto adalah kenaikan upah minimum regional (UMR) yang cukup signifikan.
Pada tahun 2009, UMR Mojokerto tercatat sebesar Rp 1.009.133. Namun, pada tahun 2024, UMR ini melonjak drastis menjadi Rp 4.624.787. Lonjakan ini menunjukkan perkembangan ekonomi yang pesat, sekaligus menjadikan Mojokerto sebagai salah satu daerah yang memiliki UMR tertinggi di wilayah sekitarnya.
Kenaikan UMR yang signifikan ini tidak hanya menarik warga asing, tetapi juga tenaga kerja lokal dari berbagai daerah di luar Kabupaten Mojokerto. Banyak pekerja dari daerah, seperti Nganjuk, Kediri, dan Madiun, serta dari luar provinsi, datang untuk mencari peluang kerja di kawasan industri ini.
Mereka tertarik karena UMR di Mojokerto hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan daerah asal mereka. Hal ini membuat Mojokerto menjadi salah satu tujuan utama bagi pencari kerja yang ingin mendapatkan penghasilan lebih baik. Bagi warga asing, Mojokerto menawarkan sejumlah keunggulan yang menjadikannya lokasi strategis untuk mendirikan perusahaan. Salah satu alasan utamanya adalah ketersediaan tenaga kerja yang melimpah dan berkualitas.
Standar tenaga kerja di Mojokerto dinilai memenuhi kriteria internasional, yang menjadikan biaya produksi di sini lebih efisien. Dengan UMR yang relatif tinggi bagi tenaga kerja lokal, tetapi masih tergolong rendah dibandingkan biaya operasional di negara asal mereka. Warga asing menganggap Mojokerto sebagai tempat yang ideal untuk berinvestasi dan mendirikan perusahaan.
Selain itu, secara geografis, Mojokerto memiliki posisi yang strategis. Sebagai kabupaten kecil yang terletak tidak jauh dari Surabaya, Mojokerto dapat berfungsi sebagai wilayah penyangga. Letaknya yang dekat dengan kota besar, seperti Surabaya mempermudah akses ke berbagai kota besar lainnya. Baik untuk distribusi barang maupun perjalanan bisnis. Hal ini menjadikan Mojokerto sebagai lokasi yang sangat menjanjikan untuk pertumbuhan industri.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto, Kecamatan Ngoro menjadi kawasan industri nomor satu di antara kecamatan lainnya. Seperti Kecamatan Pungging dan Kecamatan Jetis. Kecamatan Ngoro, dengan luas hanya 60,56 Km persegi, mampu menampung sebanyak 143 perusahaan. Jumlah ini menunjukkan tingkat kepadatan industri yang sangat tinggi di kawasan tersebut.
Pada periode 2020 hingga 2024, jumlah penduduk di Kecamatan Ngoro tercatat mencapai 90.484 jiwa, yang sebagian besar merupakan tenaga kerja yang bekerja di sektor industri. Perkembangan ini mencerminkan bahwa Mojokerto telah berhasil membangun reputasinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur.
Dengan daya tarik berupa UMR yang kompetitif, ketersediaan tenaga kerja berkualitas dan lokasi strategis, Mojokerto terus menarik minat investasi asing maupun tenaga kerja dari berbagai daerah. Ke depannya, Mojokerto diproyeksikan akan terus menjadi salah satu daerah unggulan yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
*)Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang.
Editor : Hendra Junaedi