*) Mahasiswa Jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang
SELAIN itu, mutu obat yang baik memiliki dampak ekonomi yang signifikan karena obat berkualitas tinggi memungkinkan pengobatan yang efektif, yang pada gilirannya mengurangi biaya perawatan kesehatan jangka panjang. Pasien yang menerima obat yang efektif pulih lebih cepat dan mengurangi beban sistem kesehatan.
Selain itu, obat berkualitas rendah dapat menyebabkan pengeluaran tambahan yang signifikan karena pasien memerlukan perawatan tambahan atau membeli obat yang lebih mahal. Sebuah laporan dari IQVIA menunjukkan bahwa obat-obatan berkualitas rendah di Indonesia menyebabkan pengeluaran tambahan sebesar 5 triliun rupiah setiap tahunnya.
Selain itu, industri farmasi adalah salah satu sektor ekonomi yang paling signifikan memberikan kontribusi besar terhadap PDB(Produk Domestik Nasional) dan penciptaan lapangan kerja. Produksi obat berkualitas tinggi juga dapat menarik investasi asing dan meningkatkan ekonomi negara Di antara sektor yang berkembang pesat di Indonesia, industri farmasi memainkan peran penting dalam perekonomian negara.
Kontribusi industri farmasi terhadap PDB meningkat setiap tahunnya, mencapai 1,6% pada tahun 2020 menurut data dari Badan Pusat Statistik (2020). Namun, untuk menjaga dan meningkatkan kontribusi ini perlu ada jaminan bahwa produk farmasi yang dibuat memenuhi standar kualitas internasional. Untuk memastikan kualitas produk farmasi Indonesia tetap terjaga, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan BPOM harus terus memperkuat regulasi dan pengawasan.
Pekerja yang menerima pengobatan yang efektif dapat pulih lebih cepat dan kembali bekerja lebih cepat, yang berarti mereka lebih produktif . Hal ini sangat penting bagi ekonomi negara, terutama bagi industri yang sangat bergantung pada tenaga kerja. Menurut data Kementerian Perindustrian, industri farmasi akan menciptakan lebih dari 200.000 lapangan kerja langsung pada tahun 2022 dari obat terhadap pasien dengan pertumbuhan sebesar 5% per tahun (Kementerian Perindustrian, 2022).
Tujuan dari opini ini adalah untuk mengetahui apa dampak ekonomi dari obat. Maksud dari dampak ekonomi obat terhadap pasien adalah obat dibagi menjadi dua yaitu Obat Generik dan Obat Paten. Perbedaan dari kedua jenis obat ini yaitu: Obat paten merupakan obat yang masih mempunyai hak paten dan pada jual pada kemasan orisinil menurut pabrik yang memproduksinya.
Obat generik dapat diberikan pada pasien yang menggunakan BPJS dan obat paten dapat diberikan pada pasien mandiri. Obat generik kandungannya hanya kandungan obat itu saja, dan untuk obat paten terdapat berbagai kandungan. Misalnya, Termorex Plus kandungannya tidak hanya paracetamol melainkan ada CTM, pseudoephedrine HCl,gliseril guaikolat (guaifenesin). Dan untuk Secara harga juga berbeda, untuk Obat Generik harganya lebih murah. Sedangkan, obat paten harganya lebih mahal. Karena obat paten harus ditambah PPN dan keuntungan dari PT-nya.
Di Indonesia, mutu obat yang baik memiliki dampak ekonomi yang signifikan terhadap pasien. Sedangkan, mutu obat di Indonesia dibagi menjadi 2 yaitu obat generik (kualitas mutu rendah) dengan harga yang lebih murah dan obat paten (kualitas mutu tinggi) dengan harga yang relatif lebih tinggi. Pemilihan mutu obat harus sesuai dengan kebutuhan dan status pasien. Pasien umum (mandiri) dapat diberikan obat paten dan atau generik, sedangkan pasien BPJS dapat diberikan obat generik. Oleh sebab itu, pemberian atau pemilihan mutu obat berdampak pada ekonomi pasien. (*)
Editor : Hendra Junaedi