*)Mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang
FASILITAS radiofarmaka dalam negeri masih terbatas, sementara kebutuhannya semakin meningkat. Keterbatasan fasilitas tersebut berdampak pada waktu tunggu yang lama bagi pasien dalam memperoleh layanan diagnosis berupa pemindaian guna mendeteksi penyakit seperti jantung, gangguan saraf otak, serta kanker dan penyebarannya. Hal itu juga berdampak pada sebagian pasien yang memilih ke luar negeri untuk mendapatkan layanan tersebut.
Mencermati kondisi tersebut dan berkomitmen mendukung transformasi kesehatan di bidang teknologi, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usaha PT Global Onkolab Farma (GOF) meresmikan pabrik radioisotop, khususnya Fluorodeoxyglucose (FGD) untuk keperluan deteksi dini penyakit kanker di kawasan Pulogadung, Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2024. Peresmian pabrik radioisotop ini dihadiri oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar, perwakilan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), dan Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Irawati Setiady.
Pabrik radioisotop yang memproduksi Fluorodeoxyglucose (FGD) ini sangat diperlukan untuk menunjang layanan pemeriksaan Positron Emission Tomography and Computed Tomography Scanning (PET/CT-Scan) yang ada di rumah sakit. Ia berharap produksi radioisotop Kalbe dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah sakit dalam pemeriksaan PET/CT-Scan sekaligus membantu memperluas akses ke lebih banyak pasien kanker untuk menjalani terapi kanker secara komprehensif.
Pembangunan yang dimulai dengan prosesi peletakan batu pertama pada 1 Februari tahun ini dilakukan dengan akselerasi penuh, dengan tetap memperhatikan semua aspek perijinan dan aspek K3 (Keselamatan & Kesehatan Kerja). Oleh karena itu, paralel dengan proses pembangunan pabrik radioisotop dan radiofarmaka ini, Kalbe menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari regulator (Kemenkes, BAPETEN, BPOM), rumah sakit, organisasi profesi, hingga civitas akademika.
Dalam peresmian yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, perwakilan industri farmasi, dan akademisi, Kalbe Farma menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan Budi Gunawan Sadikin mengatakan menyambut baik peresmian pabrik ini dan berharap bisa memperluas pemanfaatannya selain untuk kanker. ’’Bukan hanya untuk diagnostik, tapi juga teknologinya bisa untuk pengobatan atau teronastik,’’ katanya.
Sebelumnya pada akhir tahun 2023 Bio Farma juga telah meneken perjanjian kerjasama dengan Cyclotek untuk pengembangan produk radiofarmaka (diagnostik tracers dan terapi radionuclide). Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius, menyampaikan bahwa pendirian pabrik ini merupakan langkah strategis perusahaan untuk mendukung transformasi teknologi kesehatan di Indonesia. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menyampaikan apresiasinya terhadap upaya Kalbe Farma dalam mempercepat pengembangan infrastruktur kesehatan nasional.
Fasilitas baru ini juga diharapkan membuka peluang kolaborasi dengan institusi penelitian dan rumah sakit di Indonesia untuk pengembangan lebih lanjut. Langkah ini memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri farmasi global serta mendukung kebutuhan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks. Dengan adanya pabrik ini, Kalbe Farma tidak hanya memperluas portofolio bisnisnya, tetapi juga membuktikan perannya sebagai pionir dalam menjawab tantangan kesehatan di era modern. (*)
Editor : Hendra Junaedi