Oleh: EVELYN
DI sebuah desa kecil yang terletak di antara perbukitan hijau, hidup seorang gadis bernama Sari. Setiap sore, Sari selalu duduk di beranda rumahnya, memandang langit yang sering kali mendung dan hujan yang turun perlahan. Hujan adalah sahabatnya, teman setia yang tak pernah mengeluh saat Sari merasa kesepian.
Suatu hari, saat hujan turun deras, Sari mendengar suara ketukan di pintu depan. Ketika membukanya, dia mendapati seorang lelaki tua dengan payung yang hampir putus dan pakaian basah kuyup. Lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai Pak Iwan, seorang petani dari desa tetangga yang tersesat dalam perjalanan pulang.
Sari segera mengundang Pak Iwan masuk dan menawarkannya teh hangat. Dalam kehangatan rumah Sari, Pak Iwan menceritakan kisah hidupnya. Dia adalah seorang petani yang telah menghabiskan seluruh hidupnya di ladang, dan hujan yang turun terus-menerus membuat hasil panennya menurun drastis. Pak Iwan berbicara dengan penuh rasa sakit dan keputusasaan.
Sari merasa tergerak. Dia memutuskan untuk membantu Pak Iwan. Keesokan harinya, dia pergi ke pasar dan membeli beberapa bahan makanan, serta perlengkapan pertanian yang diperlukan Pak Iwan. Dengan bantuan beberapa tetangganya, Sari mengatur agar Pak Iwan mendapatkan bantuan yang diperlukan.
Hari demi hari, hujan terus turun, tetapi kehidupan Pak Iwan mulai berubah. Dia menemukan kembali semangatnya untuk bertani, dan hasil panennya perlahan membaik. Sari dan Pak Iwan menjadi teman dekat, dan keduanya saling berbagi cerita dan kebahagiaan di bawah rintik hujan.
Tahun demi tahun berlalu, dan meskipun hujan terus turun di desa itu, Sari merasa bahwa hujan kini membawa lebih dari sekadar basah. Hujan membawa kesempatan, persahabatan, dan harapan. Dan Sari, dengan setiap tetesan hujan, selalu ingat bagaimana satu tindakan kebaikan bisa mengubah hidup seseorang. (*)
*)Penulis adalah siswa kelas VIII A SMPN 7 Kota Mojokerto.
Editor : Hendra Junaedi