KISAH ini bermula pada tahun 1993 ketika saya masih duduk di kelas tiga. Seringkali, sekelompok anak iseng tepuk tangan saat oplet butut bermuatan orang dan sepeda di atapnya ngerem lalu berhenti tak jauh dari tempat kami berada. Namun, kami pun lari bersembunyi saat melihat oplet tersebut berhenti.
Tahun berganti dan pada akhir tahun sembilan delapan, oplet biru putih itu semakin kusam, tulisan "ANGKUDES" di badannya mulai terkelupas. Tetapi, hanya itu satu-satunya sarana yang kami bisa gunakan untuk menuju sekolah. Saat kami berangkat, oplet tersebut sudah penuh sesak dengan penumpang, aroma parfum bergantian dengan bau keringat, dan anak-anak sekolah pun memilih bergelantungan di belakang.
Di dalam oplet tersebut, juga terdapat penumpang non-manusia seperti kambing yang diusung pemiliknya menuju pasar, ayam, dan mentok yang dibungkus karung dengan ujung kepalanya keluar. Setelah sampai di tempat tujuan, kami hanya perlu bilang ke kenek, "Arek sekolah Cak..," dan kadang-kadang bayar separonya, kadang-kadang tidak, tergantung nasib.
Tahun dua ribu tiba dan kami berharap ada perubahan apapun di masa depan. Namun, lambat laun si oplet tersebut mulai sepi. Warnanya semakin kusam dan bunyi roda nya semakin usang. Akhirnya, oplet biru putih tersebut terakhir kali beroperasi pada tahun 2016 dan hilang dari peredaran.
Namun, pada penghujung tahun 2023, sebuah kejutan hadir di tengah masyarakat. Pemerintah Provinsi Jawa Timur meluncurkan Trans Jatim yang dimulai dari jalur Mojokerto-Surabaya dan Sidoarjo. Tak lama kemudian, bus itu hadir lagi di koridor III Mojokerto- Balongpanggang dengan muaranya di Terminal Kertajaya Mojokerto.
Warga sangat terkagum-kagum melihat bus yang nyaman, sejuk, dengan haltenya, dan didukung oleh keberadaan pramugari yang mewah. Dengan pendekatan nilai sejarah dan kebudayaan, setiap koridor bus diberi branding dengan nuansa Majapahitan. Trans Jatim mulai beroperasi sejak Agustus dan disusul oleh koridor III Mojokerto Balongpanggang pada bulan Oktober.
Pada pengujung 2023 ini, Trans Jatim menjadi wajah baru dan nuansa baru bagi dunia transportasi lokal masyarakat Mojokerto dan sekitarnya. Seperti warga di kota-kota metropolitan, warga Mojokerto bisa menikmati fasilitas yang sama dengan warga kota Surabaya, Jogja, dan Jakarta yang telah lama menggunakan transportasi serupa.
Banyak warga berharap agar bus Suhita (yang memiliki branding gambar Ratu Suhita di koridor III Mojokerto-Balongpanggang) ini awet dan tidak bangkrut. Kami ingin bus Suhita tetap awet dan kita semua bisa naik bus ini ke mana-mana dengan harga yang terjangkau. Yaitu, hanya Rp. 5000 untuk umum dan untuk pelajar serta santri cukup bayar separonya saja, sebesar Rp. 2500.
Dengan naik Suhita, kita bisa merasa keren dan lebih mewah. Tidak ada lagi tepuk tangan untuk memberhentikan bus, tidak ada lagi siswa-siswa bergelantungan di belakang bus, dan tidak ada lagi penumpang hewan di atas bus.
*Pewarta Foto Jawa Pos Radar Mojokerto
Editor : Fendy Hermansyah