Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Bulan Kebaikan dan Cegah Kemaksiatan

Fendy Hermansyah • Rabu, 27 April 2022 | 17:22 WIB
H. Solikin M.Pd, Kepala MAN 1 Mojokerto
H. Solikin M.Pd, Kepala MAN 1 Mojokerto
Oleh: H. Solikin M.Pd

RAMADAN
merupakan sarana bagi seorang muslim untuk berbuat kebaikan dan mencegah maksiat. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, ’’Apabila malam pertama bulan Ramadan tiba, maka setan-setan dan jin-jin ifrit dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup sehingga tidak satu pun darinya terbuka. Dan, pintu-pintu surga dibuka sehingga tidak satu pun pintu yang tertutup.

Kemudian, ada seorang (malaikat) penyeru yang memanggil: ’’Wahai pencari kebaikan, bergembiralah! Wahai para pencari kejahatan, tahanlah!”. (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Para pelaku maksiat merasa ruang geraknya dipersempit untuk berbuat maksiat pada bulan Ramadan. Karena, pada bulan Ramadan mereka harus menahan nafsunya. Tempat-tempat maksiat, hiburan-hiburan yang mengumbar birahi ditutup serta fasilitas maksiat ditutup.

Terlebih lagi para syaithan yang menjadi guru para pelaku maksiat selama ini turut dibelenggu pada bulan Ramadan. Begitu pula nafsu yang menjerumuskan manusia ke neraka juga dikekang dengan ibadah puasa. Karena puasa adalah penahan nafsu dan maksiat sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW, ’’Puasa itu Junnah (penahan nafsu dan maksiat)” (HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasa’i).

Meski demikian, jika perbuatan maksiat masih terjadi pada bulan Ramadan, maka penyebabnya ada tiga. Pertama, para pelaku maksiat pada bulan ini adalah murid dan kader syaithan. Mereka telah dilatih untuk berbuat maksiat sehingga menjadi kebiasaan. Mereka ini adalah alumni madrasah syaithan yang selama ini di-training untuk berbuat maksiat oleh “guru atau ustaz” mereka (syaithan).

Kedua, puasa yang dilakukan oleh pelaku maksiat itu tidak benar (tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad Saw) sehingga tidak diterima. Bila ia berpuasa dengan benar, maka puasanya itu pasti mencegahnya dari maksiat.

Ketiga, nafsunya telah menguasai dan menyandera dirinya. Puasa sesungguhnya tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa.

Namun juga menahan diri dari nafsu dan maksiat baik berupa ucapan maupun perbuatan yang diharamkan. Akibatnya, puasanya tidak bernilai apa-apa dan tidak memberikan dampak positif dalam tingkah lakunya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila pada bulan Ramadan masih ada orang-orang yang ’’istiqamah” berbuat maksiat. Dan yang tidak kalah pentingnya, bahwa bulan Ramadan sebagai bulan maghfirah (pengampunan dosa).

Allah SWT menyediakan Ramadan sebagai fasilitas penghapusan dosa selama kita menjauhi dosa besar. Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadan ke Ramadan menghapuskan dosa-dosa di antara masa-masa itu selama dosa-dosa besar dijauhi” (HR. Muslim).

Melalui berbagai aktivitas ibadah di bulan Ramadan Allah SWT menghapuskan dosa kita. Di antaranya adalah puasa Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi Saw: ”Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitu pula dengan melakukan shalat malam (tarawih, witir dan tahajud) pada bulan Ramadan dapat menghapus dosa yang telah lalu.

Sebagaimana sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa yang berpuasa yang melakukan qiyam Ramadan (shalat malam) dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim). (*)

Penulis adalah Kepala MAN 1 Mojokerto


Editor : Fendy Hermansyah
#Lentera Ramadan #MAN Mojokerto #petuah remadan #Kalam Ramadan