Pengasuh PP Al Muawwanah Mojokerto
DATANGNYA bulan Ramadan adalah kabar gembira bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Meski masih dalam situasi pandemi, setidaknya ada yang berbeda dengan Ramadan dua tahun sebelumnya. Berbagai pelonggaran pembatasan untuk beribadah menjadikan alasan untuk kembali meramaikan masjid dan rumah ibadah yang telah lama dirindukan selama pandemi.
Ini adalah suatu nikmat yang sangat perlu kita syukuri dan menjadi kesempatan berharga bagi kita umat muslim untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sembari menelaah lebih jauh lagi tentang bagaimana dan apa saja yang telah kita lakukan selama ini, apakah yang telah kita lakukan selama ini mampu melahirkan hal-hal positif bagi diri kita bahkan orang lain. Atau justru sebaliknya, sangat merugikan dan membahayakan.
Dalam kitabnya, Maqashid al-Shaum, Sulthan al-Ulama, Imam Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami (w. 660 H) mengatakan, paling tidak ada tujuh faedah puasa di bulan Ramadan yang satu sama lainnya saling terkait. Faedah yang dibicarakan adalah soal ’’pembangunan diri (iman)’’, salah satu di antaranya adalah Takfîr al-Khatha’at (penghapus kesalahan/dosa).
Dasar dari faedah ini adalah hadis Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang mengatakan, Man shoma Romadhona imanan wahtisaban ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbih. Yang artinya, Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Yang dimaksud ’’imanan-karena iman’’ dalam hadis di atas adalah meyakini kewajiban puasa dan melaksanakannya dengan penuh kesadaran (bi wujubihi). Dan maksud dari ’’ihtisaban-mengharapkan pahala’’ adalah ’’li ajrihi inda rabbihi-merendahkan diri memohon upah/pahala hanya kepada Tuhan (Imam Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami, Maqashid al-Shaum, halaman 15).
Meminta imbalan (pamrih) kepada Allah merupakan bentuk penyerahan diri, pernyataan keimanan dan menyatakan kelemahan di hadapan-Nya. Berbeda halnya dengan pamrih antarsesama manusia yang seakan-akan menunjukkan ketidaktulusan. Di samping itu, manusia memiliki masalahnya sendiri-sendiri, sekuat dan setegar apa pun dia, sekaya dan semampu apa pun dia, manusia tidak mungkin lepas dari persoalan hidup. Sehingga meminta imbalan kepada mereka, sama saja dengan menambahi beban hidup mereka.
Atas dasar itu semua, dengan menyadari kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan membenahi diri agar ke depan menjadi manusia yang lebih mampu menebar kemanfaatan dan kebaikan tanpa pamrih kepada sesama adalah menunjukkan bagaimana dan sampai seberapa bangunan iman kita di hadapan-Nya. (*)
Editor : Fendy Hermansyah