Hampir semua warga memiliki keahlian membuat kue legendaris ini berkat keahlian yang diwariskan secara turun-temurun.
Selain identik dengan festival menjelang upacara nyadran, serabi Kemasan juga diburu sebagai jajanan khas Ramadan.
Yayuk, 54, adalah salah satu pembuat serabi di Lingkungan Kemasan yang bertahan selama puluhan tahun. Keahlian itu diwarisinya dari sang mertua. Saat ini, Yayuk hanya membuat serabi berdasarkan pesanan.
Misal untuk kebutuhan festival jelang upacara nyadran alias tradisi menyambut Ramadan yang digelar setiap Ruwah, bulan Jawa sebelum puasa. Ataupun ketika berlangsung kegiatan massal di kampung seperti perayaan 17-an.
Memasuki Ramadan ini, ibu rumah tangga itu mengaku banyak mendapat pesanan kue serabi. Cita rasa serabi yang lembut memang cocok untuk mengisi perut setelah seharian berpuasa, apalagi kalau disantap pas masih hangat-hangatnya.
Namun, tak semua pesanan dapat dilayani. Yayuk beralasan proses pembuatan serabi butuh waktu lama. ’’Sebenarnya banyak yang cari, tapi bikin serabi kan harus satu-satu, jadi kadang sampai setengah hari sendiri,’’ katanya, Selasa (19/3).
Serabi berasal dari campuran bahan tepung beras, parutan kelapa, dan santan. Adonan yang sudah kalis kemudian dimasak mengunakan wajan tanah liat di atas tungku kayu bakar dengan api besar.
Kemarin, Jawa Pos Radar Mojokerto menyaksikan Yayuk memasak lembar demi lembar serabi itu. Setiap menuang adonan, Yayuk mengusap wajan dengan daun waru. ’’Ini pengganti minyak,’’ ujarnya. Selembar kue serabi dijual seharga Rp 2,5 ribu.
Yayuk memiliki usaha aneka makanan seperti warung rujak. Meski sudah turun-temurun, dia hanya membuat kue serabi untuk pekerjaaan sampingan.
Dibantu anaknya, Yayuk mengaku pernah menjual serabi lewat online dan laris. ’’Sekarang sudah tidak, kalau ada pesanan saja bikin,’’ dia menegaskan.
Lurah Blooto Wahyudi memperkirakan terdapat ratusan warga Lingkungan Kemasan yang memiliki keahlian membuat kue serabi.
Tradisi itu diwariskan secara turun-temurun. Ia pun menyebut, serabi sudah menjadi bagian dari identitas Kemasan, di samping sebagai sentra produsen sepatu dan sandal. Demikian pula dengan Lingkungan Blooto yang terkenal sebagai pusat pembuat jajanan tapai.
Pihanya pun berupaya mempertahankan ciri khas Kemasan sebagai kampung serabi. Wahyudi yakin, produksi serabi akan tetap lestari dengan event tahunan yang berlangsung rutin.
’’Pembuatan serabi insyaallah tidak akan terputus, tinggal kita ingin mengangkat lagi dari sisi ekonominya,’’ ucap Wahyudi. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah