’’Kalau begini apanya yang bergizi.’’
Zakaria
Wali murid MI di Kota Mojokerto
’’Sekarang yang jadi pertanyaan, apakah menu tersebut layak untuk disebut makanan bergizi dan apakah sudah sesuai dengan harga yang ditentukan pemerintah?.’’
Nuryono Sugi Rahardjo
Anggota Komisi III DPRD Kota Mojokerto
- Warga Cibir Menu yang Dibagikan ke Siswa
- Dewan Kota Pertanyakan Kesesuian Harga
MOJOKERTO RAYA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) edisi Ramadan di Mojokerto menuai sorotan tajam setelah sejumlah wali murid menilai porsi dan komposisi tidak sebanding dengan label ’’bergizi’’ serta anggaran Rp 8.000-Rp 10.000 per porsi. Kalangan DPRD pun mempertanyakan kandungan gizi serta kesesuaian menu dengan harga yang ditetapkan pemerintah.
Sorotan terhadap menu MBG edisi Ramadan muncul di berbagai daerah, tak terkecuali di Mojokerto. Masyarakat ramai-ramai mengunggah makanan yang dibawa pulang anaknya dari sekolah ke media sosial. Mereka menyindir komponen menu karena dianggap terlalu sederhana.
Seperti paket MBG dari salah satu SPPG di Kecamatan Puri yang terdiri dari roti, sebutir telur rebus, kacang kulit, dan buah belimbing. Ada pula paket dari SPPG di Kecamatan Trowulan berupa dimsum, edamame, anggur, dan susu.
Zakaria, wali murid di Kota Mojokerto, mengaku heran dengan menu MBG milik anaknya yang duduk di bangku madrasah ibtidaiyah (MI). Menurutnya, porsi yang biasanya berupa nasi dengan lauk pauk dan buah kini diganti makanan ringan seperti kacang dan telur. ’’Kalau begini apanya yang bergizi,’’ cetusnya, kemarin (25/2).
Anggota Komisi III DPRD Kota Mojokerto Nuryono Sugi Rahardjo mengatakan, dirinya mendapat laporan dari sejumlah warga mengenai menu MBG yang diterima kemarin. Di antaranya menu roti, kacang polong, dan apel dari SPPG Kauman serta menu roti, kacang-kacangan, telur puyuh, dan kurma, dari SPPG Wates. ’’Saya lihat di media sosial ramai dibahas menu MBG, coba saya inisiatif cari informasi dan itu yang disampaikan warga,’’ tuturnya.
Bejo, panggilan Nuryono, mengaku tak bermaksud mencari-cari kesalahan dalam penyaluran MBG. Hanya saja, karena menjadi perbincangan luas, pihaknya berusaha menampung aspirasi. Setelah melihat menu MBG tersebut, dirinya kini mempertanyakan kekucupan kandungan gizi serta kesesuaian harganya. ’’Sekarang yang jadi pertanyaan, apakah menu tersebut layak untuk disebut makanan bergizi dan apakah sudah sesuai dengan harga yang ditentukan pemerintah?,’’ tuturnya.
Sesuai ketentuan BGN, harga bahan makanan setiap porsi MBG Rp 8 ribu untuk porsi kecil dengan penerima balita, PAUD, TK, dan SD kelas 1-3. Adapun harga Rp 10 ribu per porsi ditetapkan untuk kelompok penerima SD kelas 4-6, SMP, SMA, ibu hamil dan menyusui. Melalui unggahannya, SPPG Kauman mengklaim menu roti kelapa berry, kacang polong, dan apel fuji yang dibagikan kemarin memiliki kandungan energi 600,5 kkal, 21,1 gram protein, 12,6 gram lemak, 111,8 gram karbohidrat, dan 10,8 gram serat.
Diberitakan sebelumnya, menu MBG yang disalurkan selama Ramadan akan diganti dengan menu kering. Kepada anak sekolah, menu tetap dibagikan pada pagi hari dan dibawa pulang ke rumah dengan asumsi untuk berbuka puasa. ’’(Menu) berupa keringan snack, (waktu pembagian) seperti biasa,’’ ujar Satgas SPPG Wates, Senin (16/2). (adi/fen/ris)
Editor : Fendy Hermansyah