Sajikan Berbagai Event Rakyat untuk Dongkrak Perekonomian Daerah
KABUPATEN - Pemerintah Kabupaten Mojokerto siap menjadi tuan rumah kegiatan nasional bulan pengurangan risiko bencana (PRB) 2025 dengan berbagai kegiatan berdampak untuk masyarakat. Selain menjadi ajang edukasi, pengenalan potensi wisata, momentum ini diharapkan mampu menjadi gairah perekonomian di bumi Majapahit.
Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa menegaskan, pemda menyambut positif kegiatan bulan PRB 2025 yang digelar 1-3 Oktober mendatang. Secara geografis wilayah Kabupaten Mojokerto terdiri atas dataran tinggi dan perbukitan di wilayah Selatan dan Utara serta dataran rendah di wilayah tengah. ’’Sehingga memiliki banyak potensi bencana. Di antaranya, banjir, tanah longsor, banjir bandang angin kencang, kekeringan dan karhutla,’’ ungkapnya.
Di samping itu, Kabupaten Mojokerto juga memiliki latar belakang historis sebagai pusat salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Asia yaitu Kerajaan Majapahit. Sehingga, hemat Gus barra, dua hal inilah yang akan diangkat dalam kegiatan nasional bulan PRB.
Menurutnya, PRB ini menjadi agenda nasional rutin setiap tahun, sejak 2013. Dilaksanakan selama bulan Oktober di seluruh Indonesia oleh seluruh pegiat kebencanaan. ’’Kegiatan ini sebagai upaya negara memberikan apresiasi kepada para pelaku kebencanaan yang melaksanakan kegiatan pengurangan risiko bencana. Peringatan Bulan PRB juga menjadi wadah untuk pengingat bersama atas kemajuan-kemajuan, saling berbagi informasi keberhasilan, capaian dan tantangan dalam upaya pengurangan risiko bencana di Indonesia,’’ jelas Gus Barra.
Beragam rangkaian kegiatan pun digelar. Di antaranya, lomba terkait kebencanaan seperti lomba fotografi, video kreatif kebencanaan dan kesiapsiagaan, lomba pembuatan jingle bulan PRB, lomba menggambar dan mewarnai untuk anak sekolah usia dini dan lomba karya sejarah kebencanaan. ’’Lalu ada pelatihan kebencanaan bagi masyarakat. Terutama untuk kelompok organisasi perempuan, guru, ojek online dan relawan penanggulangan bencana,’’ urainya.
Selain itu, forum kepala pelaksana BPBD sebagai sarana berbagi pengalaman, inovasi dan pembelajaran dari penanganan bencana di berbagai daerah. Sharing session sebagai sarana berbagi ilmu dan teknologi kebencanaan bagi para pelaku kebencanaan. ’’Kami juga agendakan kunjungan kebudayaan di berbagai situs peninggalan Mojopahit sebagai sarana edukasi dan promosi wisata historis dan religi yang ada di Kabupaten Mojokerto,’’ tegasnya.
Sehingga dalam momentum ini, Gus Barra berharap mampu menjadi pendongkrak perekonomian di Bumi Majapahit. Banyaknya peserta yang hadir dari berbagai daerah, momentum ini tentu menjadi peluang daerah. Baik dari sektor kuliner, penginapan, hingga kerajinan. ’’Jadi kami optimis, kegiatan bulan PRB di Kabupaten Mojokerto ini membawa gairah untuk perekoniomian daerah,’’ tandasnya.
Tak sekadar itu, sebagai aksi nyata, juga dilakukan penanaman 3.000 bibit pohon yang tersebar di 25 desa tangguh bencana dan wisata rintisan bumi kepakisan, Desa Pakis Trowulan. Hal itu sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memelihara bumi. ’’Ekspo bulan PRB juga menyajikan beberapa layanan masyarakat secara gratis dan sebagai sarana berbagi ilmu kebencanaan bagi masyarakat,’’ tuturnya.
Selanjutnya, ada lomba rangking 1 yang bisa diikuti oleh anak-anak tingkat SD hingga sekolah menengah, pesta rakyat yang akan diselenggarakan di Trowulan. Di acara ini akan tersedia berbagai kuliner khas, pertunjukan seni budaya dan sosialisasi kegiatan pengurangan risiko bencana bagi masyarakat Mojokerto Raya. Kegiatan sunat massal gratis selama tanggal 1-2 Oktober di GOR Seni Mojokerto. Kegiatan fun run 5 kilometer yang akan diikuti oleh 1.500 pelari, dan malam puncak acara akan diselenggarakan di Trowulan. ’’Di kegiatan ini akan ada arahan menteri koordinator PMK dan kepala BNPB, Gubernur Jawa Timur, penampilan budaya khas Majapahit, launching katalog ketangguhan bencana dan HUT Jawa Timur, drone light show, shalawat dan tausyiah kebencanaan oleh Gus Kautsar,’’ pungkasnya. (ori/fen)
Editor : Hendra Junaedi