SEMENTARA itu, Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa menegaskan, terdapat tiga aset di tiga kecamatan milik pemkab sedianya akan disiapkan sebagai pengganti tukar guling. Di antaranya di Kecamatan Pungging, Gondang, dan Kutorejo.
Ketiga lokasi tersebut dinilai lahannya lebih produktif dibandingkan di Mojosari. Lokasinya, kata Gus Bupati, juga lebih representatif untuk pengembangan pertanian. ’’Makanya kita tawarkan di daerah-daerah yang memang produktivitas pertaniannya jauh lebih baik. Irigasi pertaniannya juga jauh lebih baik,’’ ungkapnya.
Gus Bupati sebelumnya menegaskan, selama beberapa tahun terkahir, produktivitas pertanian di Kabupaten Mojokerto terus meningkat. Bahkan, sebagai daerah penyangga ketahanan pangan di Jatim. ’’Terkait lahan hijau, sebenarnya hasil pertanian kita surplus. Jika ada orang menganggap semakin menyempit lahan produktivitas menurun, tetapi pertanian kita tidak, bahkan surplus 30 ribu ton. Artinya, tidak ada masalah,’’ papar Gus Barra.
Sebelumnya, perwakilan Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Provinsi Jawa Timur Asrul Koes menjelaskan, bahwa Kementan termasuk BRMP akan berkomunikasi ulang dengan jajaran kementerian provinsi dan nasional agar ke depan dapat menemukan solusi atas kendala yang ada.
Sehingga lahan yang berada di kawasan Kecamatan Mojosari tersebut sudah bisa mulai dibangun pada 2026 mendatang. ’’Terkait rencana lokasi baru dari Pemkab Mojokerto, BRMP Provinsi Jawa Timur juga dibebani target pembenihan yang tahun ini Jawa Timur ditargetkan 136 ton, tetapi kami sudah diskusi juga dengan atasan. Jadi ketika persetujuan ini disetujui oleh kepala badan, nanti 2026 pengadaan tanahnya bisa dilakukan,’’ tandasnya. (ori/ris)
Editor : Hendra Junaedi