- Kondisi di Pasar Rakyat Ketidur
- Hasil Bantuan Kemendag Rp 3 Miliar
KOTA – Sepinya Pasar Rakyat Ketidur, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon, berbanding terbalik dengan status kios dan los yang dipenuhi pedagang. Mereka diduga hanya mengkavling lapak, namun enggan menempati untuk berjualan.
Di atas kertas, 104 kios dan los Pasar Rakyat Ketidur memang tak ada yang kosong. Semua sudah penuh ditempati pedagang. Tapi, pada kenyataannya, pasar baru itu sepi mamring. ”Bisa sampean lihat sendiri kondisinya begini (sepi), pagi, siang, sama saja,” ujar seorang warga di lokasi, kemarin (2/6).
Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, hampir tak ada aktivitas berarti di pasar yang dibangun pada 2021 silam itu. Seluruh kios di area muka pasar nyaris tutup total. Dari 12 kios, hanya satu yang buka, yaitu penjual plastik. Sedangkan kios lainnya dalam kondisi tertutup rapat.
Kios-kios itu sejatinya bukan tanpa pedagang. Masing-masing ada papan nama jualan, dari toko baju, kelontong, hingga jamu. ”Tapi, jarang sekali buka, bahkan banyak yang tidak. Hanya satu itu saja yang buka toko plastik,” imbuh dia.
Kondisi serupa tampak di area dalam pasar. Hampir seratus los yang tersedia melompong. Hanya terdapat angkringan kopi di dekat pintu masuk utama serta penjual nasi sebelah timur.
Dia melayani para pedagang di Pasar Tematik Ketidur di sebelahnya. Nasib pasar barang bekas itu sedikit lebih baik karena masih menunjukkan geliat. Adapun mayoritas los hanya dipasangi papan nama serta tanda pemiliknya.
Seorang penjaga Pasar Rakyat Ketidur menyatakan, meskipun sepi, kios dan los telah dihuni. Pedagang baru yang hendak berjualan sudah tidak bisa lantaran penuh. ”Sering ada orang ke sini bilang mau jualan tapi sudah tidak bisa. Karena sudah ada yang menempati, tapi memang banyak yang tidak buka,” tutur dia.
Kondisi tersebut seolah-olah pedagang hanya mengkavling lapak. Mereka sesuka hati berjualan. Terlebih sejak pasar beroperasi, para penghuni kios dan los yang melalui proses pendaftaran itu tak ditarik retribusi. Mereka menghuninya secara gratis.
Namun, mulai bulan ini, Pemkot Mojokerto berencana menerapkan pungutan retribusi sesuai Perda Nomor 7/2023 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. ”Iya (sebelumnya masih gratis), insya Allah start Juni (dikenakan retribusi),” kata Kepala Diskopukmperindag Kota Mojokerto Ani Wijaya, Senin (13/5) lalu.
Dia menyatakan, Pasar Rakyat Ketidur diprioritaskan bagi warga Kota Mojokerto. Menurutnya, asal ada kios atau los yang kosong, calon pedagang bisa mengajukan ke diskopukmperindag atau UPT pasar. ”Bisa langsung berjualan,” ucapnya.
Di sisi lain, sejumlah cara dilakukan untuk meramaikan pasar yang menelan anggaran Rp 3 miliar hasil bantuan Kementerian Perdagangan (Kemendag) itu. Antara lain, menggodok regulasi untuk menjadikan Pasar Rakyat Ketidur sebagai pasar pengendali inflasi yang menjual komoditas dengan harga termurah. ”Berbagai event juga digelar di halaman pasar, seperti pasar murah, pasar takjil, senam aerobik, dan sebagainya,” tandas Ani. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi