Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Diresmikan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Pasar Tradisional di Kota Mojokerto Ini Mangkrak

Imron Arlado • Minggu, 2 Juni 2024 | 15:26 WIB

 

MUSPRO: Dua warga tampak menempati los Pasar Rakyat Pracanca dengan membawa televisi dan perabotan lainnya, Jumat (1/6).
MUSPRO: Dua warga tampak menempati los Pasar Rakyat Pracanca dengan membawa televisi dan perabotan lainnya, Jumat (1/6).

KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Mangkraknya sejumlah pasar rakyat di Kota Mojokerto bakal sulit dikembalikan ke kondisi semula.

Pasalnya, program promosi untuk meramaikan aktivitas perdagangan di pasar dinilai gagal. Sepinya pengunjung membuat para pedagang untuk memilih angkat kaki dari pasar.

BELUM BERGELIAT: Pasar Rakyat Ketidur, Kecamatan Prajit Kulon yang menjadi salah satu aset yang akan dikaji ulang pemanfataannya oleh Pemkot Mojokerto.
BELUM BERGELIAT: Pasar Rakyat Ketidur, Kecamatan Prajit Kulon yang menjadi salah satu aset yang akan dikaji ulang pemanfataannya oleh Pemkot Mojokerto.

Seperti yang diungkapkan NI, salah seorang pedagang Pasar Rakyat Ketidur. Sejak diresmikan Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan pada Maret 2023 lalu, aktivitas perdagangan di 11 kios dan 104 los berangsur sepi hingga ini.

”Ini pasarnya buka, tapi karena nggak ada pengunjung, pedagangnya jadi aras-arasen dodol (enggan berjualan). Malah ada yang memilih jualan di Pasar Tanjung karena ramai di sana,” ungkapnya, Sabtu (1/6).

 

Dari kios dan los yang tersedia, lanjut NI, hanya 50 persen yang diisi pedagang. Sebaliknya konsistensi pedagang yang bertahan berjualan hingga saat ini tidak lebih dari 5 orang.

”Kondisi seperti ini ya dari awal pasar diresmikan dulu. Ramai satu bulanan, terus habis itu tutup satu persatu,” bebernya. Ia mangaku memilih bertahan meski sepi pembeli untuk mengais peluang yang tersisa.

Pesimistis untuk meramaikan kembali aktivitas perdagangan di pasar terus menguat. Sebab, sejumlah event promosi pasar, seperti Pasar Ramadan, yang digelar Pemkot Mojokerto pada Ramadan lalu tak kunjung membuahkan hasil.

”Walaupun ada acara takjil itu tetap aja sepi. Kalau ada acara seperti itu, yang (bertahan) di sini disuruh ikut jualan ya jualan,” urai NI.

Mulanya, lanjut NI, perekonomian di pasar yang dibangun dari APBN Dana Tugas Pembantuan Kementerian Perdagangan 2021 senilai Rp 4 miliar tersebut sempat menggeliat.

Baca Juga: Batik Pandankrajan Mojokerto Tembus Pasar Mancanegara

Namun, satu persatu pedagang mulai meninggalkan los dan kios seiring sepinya pengunjung.

Terutama, bagi pedagang produk pangan segar. Seperti sayuran, buah-buahan dan daging yang rentan merugi.

Lha iya, jualan kalau tidak ada yang beli ya bosok (busuk). Maunya pedagang ya pasar ini ramai, berhubung nggak ada yang beli ya bisa apa kita,” tandasnya.

 

Hal senada diutarakan NU, salah seorang pedagang Pasar Rakyat Prapanca. Sejak diresmikan April 2020 silam, 104 los dan 11 kios perlahan ditinggal para pedagang.

Kini pedagang yang tersisa tidak lebih dari hitungan jari. Pun demikian dengan upaya menggeliatkan perekonomian masyarakat di area pasar yang diprakarsai paguyuban pedagang pasar maupun Pemkot Mojokerto tersebut. Beragam cara telah dilakoni, tapi tak mampu menarik pengunjung.

”Dulu ada namanya acara car free day (CFD), pedagang ini jualan di luar pasar, di pinggir jalan atau di lapangan sebelah. Sempat ramai, tapi setelah itu ya begini (sepi),” ungkap perempuan paruh baya ini.

NU menyadari ada yang keliru meski memilih bertahan untuk berdagang di pasar mangkrak di dekat Taman Prapanca itu. Salah satunya pembangunan proyek fisik pasar yang jaraknya relatif berdekatan satu sama lain.

”Di sini kan dekat sama Pasar Tanjung dan Juritan (Prajurit Kulon) juga, orang-orang ya banyak milih jualan di sana yang lebih ramai. Apalagi, sekarang jualan juga bisa lewat online, jadi di sini malah sepi,” tandas NU.

Praktis, dari sejumlah kios dan los di dua pasar rakyat tersebut hanya menyisakan spanduk dagangan karena ditinggal pedagang angkat kaki.

Di sisi lain, pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto, pedagang yang bertahan tampak leluasa bermalam di salah satu sudut los pasar. Mereka bahkan membawa televisi, galon air, karpet dan gitar. (vad/ris)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Imron Arlado
#pasar ketidur #pasar tradisioanal #zulkifli hasan (zulhas) mendag zulhas #mojokerto