MOJOKERTO RAYA - Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto saat ini telah menghadapi musim kemarau. Masyarakat diminta mewaspadai dampak peningkatan suhu udara dan minimnya curah hujan yang berlangsung relatif signifikan.
’’Saat ini curah hujan sudah mulai turun signifikan. Kalaupun ada hujan, intensitasnya rendah,’’ terang Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim, kemarin (11/5). Di samping itu, musim kemarau turut memengaruhi peningkatan suhu udara hingga terasa terik di siang hari.
Suhu harian di wilayah Mojokerto Raya saat ini berada di kisaran 17-35 derajat Celsius. Terjadi peningkatan dari suhu maksimal dari yang sebelumnya di kisaran 33 derajat Celsius. Khakim menyebut, saat ini terkategori awal musim kemarau. Sementara puncaknya diprediksi jatuh pada September mendatang. ’’Puncak musim kemarau saat ini diprakirakan terjadi kisaran bulan Agustus dan September nanti,’’ bebernya.
Pihaknya meminta agar masyarakat mewaspadai dampak terjadinya kemarau panjang akibat fenomena El Nino ekstrem yang dijuluki ’’Godzilla’’. Utamanya potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan. Pemkab telah meminimalisir dampak risiko dengan membentuk satuan kerja (satker) bencana hidrometeorologi kering untuk memitigasi kekeringan dan karhutla. BPBD mencatat, Kecamatan Dawarblandong, Jetis, Kemlagi, dan Gedeg terkategori sebagai wilayah berisiko tinggi karhutla.
Sementara kekeringan atau krisis air bersih, masih membayangi tiga desa langganan. Yakni, Desa Manduro Manggung Gajah dan Kunjorowesi di Kecamatan Ngoro, serta Desa Duyung di Kecamatan Trawas. Pada musim kemarau ini, BPBD menyediakan pagu sekitar 300 tangki air bersih dengan kapasitas masing-masing tangki sekitar 4.500 liter.
Besaran kuota air bersih tersebut masih bisa ditambah menyesuaikan kebutuhan masing-masing desa jika kekeringan melanda. ’’Selepas Mei ini kita akan ajukan SK unntuk penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kering,’’ tukas Khakim. (vad/fen)
Editor : Fendy Hermansyah