''SD kami berada di pelosok sekali dan siswanya amat sangat sedikit yaitu hanya 45. Kami menginginkan semua ikut merasakan semangat persatuan dan kebersamaan meski berbeda satu sama lain," terang Kepala Sekolah SDN Pucuk 2, Supeni. Tak sekedar siswa, para orang tua atau wali murid juga turut antuasias mendampingi putra-putrinya dalam merayakan rumusan dasar negara.
Penggunaan pakaian adat dan profesi yang berbeda-beda juga memiliki makna tersendiri. Di mana, pihak sekolah menginginkan implementasi nyata dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Yang bermakna berbeda-beda tapi tetap satu jua. Sehingga siswa bisa memaknainya dalam perilaku sebagai bekalnya di masa depan.
''Pancasila itu sendiri dirumuskan oleh para tokoh yang sudah mahir dan sudah diimpikan Indonesia itu sendiri. Yakni bersatu dalam perbedaan. Kami ingin anak-anak bisa memahaminya sebagai perilaku dan menjadi kebiasaan di kehidupan sehari-hari," tandasnya.
Sementara itu, salah satu siswa kelas VI, Daffa Ardianka Putra mengaku sangat senang dan bersemangat datang ke sekolah hanya untuk melaksanakan upacara kali ini.
Dengan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkon, Daffa ingin menunjukkan rasa nasionalisme tinggi dalam mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Seperti layaknya para pejuang terdahulu yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi merebut Negara Kesatuan Republik Indonesia dari tangan penjajah.
''Senanglah, baru pertama kali. Kalau upacaranya kan memang tiap tahun. Tapi kalau baju adat baru kali ini dipakai memperingati Pancasila,'' pungkasnya. (far) Editor : Fendy Hermansyah