KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Ratusan warga mendemo lokasi galian sirtu di Dusun Sawoan, Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, kemarin (8/2). Mereka menuntut supaya aktivitas pertambangan dihentikan karena mengancam mata air dan mata pencaharian. Warga penolak tambang mengaku sering mendapat intimidasi dari preman.
Aksi penolakan terhadap aktivitas pertambangan ini berlangsung sejak pukul 10.00. Sekitar 200 warga dari Dusun Sawoan menduduki lokasi galian yang berada di tengah lahan pertanian tersebut. Mereka memblokade akses keluar masuk galian dengan mendirikan tenda. ”Kami mengkhawatirkan dampak dari aktivitas galian ini,” tutur Abdul Jalal, salah satu peserta aksi.
Menurutnya, aktivitas galian tersebut dapat merusak lingkungan. Sumber mata air untuk kebutuhan warga dan irigasi terancam mati. ”Sekarang memang belum terlihat dampaknya, makanya kami menolak ada galian ini. Karena kalau diteruskan sumber air tidak bisa mengalir lagi dan dampaknya warga susah dan harus beli. Sudah banyak contoh kejadian di banyak desa lain,” beber Warga Dusun Sawoan itu.
Selain mengancam sumber mata air, aktivitas galian tersebut juga berada di antara lokasi pembuatan batu bata yang sudah ditekuni warga selama bertahun-tahun. Pengerukan sirtu dikhawatirkan membuat tanah rusak dan habis. ”Di sini banyak warga yang menggantungkan mata pencahariannya dari membuat batu bata ini,” tandasnya.
Menurut Jalal, aktivitas pertambangan milik warga luar desa itu baru beroperasi sekitar dua minggu terakhir. Selama ini, warga yang kontra sering mendapat intimidasi. Mereka kerap didatangi preman galian ke rumah masing-masing. ”Setiap ada yang menolak atau resah dengan galian, pasti langsung didatangi ke rumahnya,” ujar dia. Teror demikian membuat warga takut.
Melalui aksi kemarin, warga menuntut agar aktivitas galian ditutup total. Mereka menolak lobi dalam bentuk kompensasi apapun. ”Tuntutan kami sudah harga mati ditutup, bukan meminta kompensasi atau yang lain,” tegasnya. Selama ini, kata dia, tidak ada solusi yang diberikan oleh pihak penambang. ”Kalau warga protes, tidak pernah ada jalan keluar,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sawo Nur Kholis mengatakan, terdapat warga yang pro dan kontra dengan galian tersebut. Pihaknya berusaha menengahi dan memfasilitasi tuntutan warga yang tidak berkenan dengan adanya aktivitas pertambangan. ”Kami juga koordinasi dengan aparat penegak hukum dengan adanya warga yang tidak menghendaki tanah digali,” terangnya.
Menurut dia, pengoperasian galian tetap dilakukan meskipun terdapat warga yang menolak. Pihak galian bersikukuh membuka aktivitas tambang dengan menjanjikan akan memberi kompensasi. ”Sampai sekarang belum diberikan kompensasi untuk warga, karena kondisinya juga tidak kondusif seperti ini. Kalau soal perizinannya, kami tidak terlalu paham,” tandasnya. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah