Pemoeda Batja Mojosari, Mendekatkan Buku ke Masyarakat

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 07:30 WIB
LITERASI: Pengunjung lapak Pemoeda Batja Mojosari memilih buku dan berdiskusi di Taman Lalu Lintas Mojosari.(dok Bastian Pemoeda Batja Mojosari for JPRM)
LITERASI: Pengunjung lapak Pemoeda Batja Mojosari memilih buku dan berdiskusi di Taman Lalu Lintas Mojosari.(dok Bastian Pemoeda Batja Mojosari for JPRM)

Keresahan sederhana menjadi awal lahirnya Pemoeda Batja. Komunitas literasi yang digagas Bastian Suryo Prayogo ini tumbuh dari keinginan untuk membuat buku benar-benar dekat dengan masyarakat.

MENURUT Bastian, membaca seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, Pemoeda Batja memilih ruang publik sebagai salah satu tempat untuk memperkenalkan buku kepada masyarakat. Setiap minggu, mereka membuka lapak taman baca di Taman Lalu Lintas Mojosari. Berbagai buku, mulai fiksi hingga nonfiksi, dibawa dan ditawarkan kepada siapa saja yang ingin membaca. 

Anak-anak, remaja, maupun orang dewasa bisa datang tanpa syarat yang rumit. Buku dapat dibaca di tempat atau dibawa pulang untuk dilanjutkan di rumah.Awalnya ingin mendekatkan buku dengan masyarakat. Ini terinspirasi ketika saya masih kuliah,” ujar lulusan jurusan perfilman Universitas Negeri Jember (Unej) ini. 

Aktivitas Pemoeda Batja tidak berhenti pada kegiatan membaca. Komunitas ini juga membuka ruang diskusi bagi anggota maupun masyarakat umum. Berbagai keresahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dibicarakan bersama. 

Sesekali mereka menghadirkan pemateri untuk membahas tema tertentu secara lebih mendalam. Dari sana, kegiatan literasi tidak sekadar soal membaca buku, tetapi juga menjadi ruang untuk bertanya, bertukar pikiran, dan melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang. 

Semangat tersebut kemudian dibawa keluar dari ruang komunitas. Pemoeda Batja beberapa kali melakukan kegiatan sosial bersama desa-desa yang menjadi mitra. Salah satunya melalui kegiatan bermain dan belajar bersama anak-anak.

Bastian mengatakan kegiatan semacam itu sebagai cara sederhana untuk berbagi pengetahuan sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat. Karena literasi tidak harus selalu berlangsung dalam suasana formal. Yang datang mulai anak sekolah hingga buruh Ngoro. Mereka kadang penasaran dengan lapak kami. Lalu datang dan ngobrol, baru mereka baca buku, tutur pria yang berprofesi sebagai guru swasta ini. 

Belakangan, Pemoeda Batja juga mulai mengembangkan kegiatan pemutaran film dan diskusi. Film dipilih sebagai medium lain untuk bercerita sekaligus membuka pembicaraan mengenai berbagai persoalan. 

Perjalanan Pemoeda Batja kini memasuki tahap baru. Komunitas tersebut sedang melakukan evaluasi dan mencari formula agar tetap bisa berjalan dan berkembang. Bastian menyadari, menjaga komunitas agar tetap hidup bukan perkara mudah. Sebuah komunitas tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan yang sesekali digelar. Namun, dibutuhkan ruang yang terus terbuka dan membuat orang merasa punya alasan untuk kembali. 

Karena itu, Pemoeda Batja tidak ingin terjebak pada bentuk kegiatan tertentu. Yang ingin mereka pertahankan justru semangatnya. Yakni, menjadi ruang untuk membaca, bertanya, berdiskusi, bertemu, dan berbagi. Termasuk menjadi ruang untuk berbeda pendapat, selama perbedaan itu dibicarakan dengan cara yang sehat.

Dari lapak buku sederhana di Taman Lalu Lintas Mojosari, Bastian bersama Pemoeda Batja mencoba menjaga gagasan tersebut tetap hidup. Jadi bukan sekadar seberapa banyak buku yang dibaca, melainkan seberapa jauh pengetahuan dari buku tersebut bisa bertemu dengan kehidupan sehari-hari, pungkasnya. (fen/ris)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
literasi mojokerto pemoeda batja mojosari komunitas literasi