Buku Kesehatan Ibu dan Anak Jadi Jimat Para Ibu-Ibu di Mojokerto

Khudori Aliandu • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 11:42 WIB
HANGAT: Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Mojokerto Shofiya Hanak Albarraa berbincang dengan salah satu siswa pada Gema Pitu, di kantor Pemdes Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Selasa (4/8). (Indah JPRM)
HANGAT: Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Mojokerto Shofiya Hanak Albarraa berbincang dengan salah satu siswa pada Gema Pitu, di kantor Pemdes Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Selasa (4/8). (Indah JPRM)

 

Ning Hana Minta Orang Tua Tak Kenalkan Gawai pada Anak

KABUPATEN – Pemkab Mojokerto menggencarkan gerakan bersama masyarakat di posyandu terintegrasi terpadu (Gema Pitu) di kantor Pemerintah Desa (Pemdes) Jatipasar, Kecamatan Trowulan, kemarin (4/8). Langkah ini sekaligus untuk memperkuat percepatan penurunan stunting. Serta meningkatkan kualitas pelayanan dasar bagi masyarakat. 

Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Mojokerto Shofiya Hanak Albarraa mengingatkan masyarakat untuk memahami perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan berkaitan dengan kondisi fisik, seperti tinggi dan berat badan. Sedangkan perkembangan menyangkut kemampuan otak, kecerdasan, serta keterampilan anak yang harus dipantau sejak dini. ’’Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) ini jimat ibu-ibu. Di sini ada kolom-kolom stimulasi untuk mendukung perkembangan yang wajib diisi orang tua, bukan diisi kader,’’ ungkap Ning Hana, sapaan karib Shofiya Hanak Albarraa. 

Masyarakat juga diedukasi mengenai pentingnya pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) sesuai tahapan usia, dengan mengutamakan bahan makanan alami. Termasuk membatasi penggunaan gula, garam, dan penyedap rasa. 

Para ibu pun diimbau menghindari faktor risiko kehamilan melalui prinsip 4T. Yakni tidak terlalu muda, tidak terlalu tua, tidak terlalu dekat jarak kehamilan, dan tidak terlalu banyak melahirkan. ’’Paparan asap rokok juga bisa menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat penyerapan nutrisi pada janin, sehingga berpotensi meningkatkan risiko stunting,’’ paparnya. 

Ning Hana menjelaskan, selain sebagai wadah edukasi, Gema Pitu turut menyosialisasikan mengenai transformasi posyandu yang kini telah berkembang menjadi posyandu terintegrasi terpadu. 

Posyandu, lanjut dia, tidak lagi hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi pusat pelayanan masyarakat yang mencakup enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM). Meliputi pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat, serta bidang sosial. 

’’Posyandu ini mengalami perubahan, sebenarnya lebih terintegrasi, lebih komplet. Di mana sebelumnya hanya dalam pelayanan kesehatan, sekarang ditambah lagi dengan bidang-bidang yang lainnya,’’ tandasnya. 

Pada bidang pendidikan, Ning Hana menekankan pentingnya membangun budaya literasi sejak usia dini. Tak urung para orang tua agar tidak mengenalkan gawai kepada anak usia 0 hingga 2 tahun karena periode tersebut merupakan masa emas perkembangan otak yang membutuhkan stimulasi langsung melalui interaksi dan membaca buku. 

’’No screen time, tidak ada dikenalkan gadget. Karena di usia itu masa perkembangan otaknya sangat pesat,’’ jelasnya. Ia turut juga mengajak masyarakat untuk proaktif melaporkan apabila terdapat Anak Tidak Sekolah (ATS) di lingkungan masing-masing. 

Berbagai faktor penyebab, mulai dari kondisi ekonomi, pernikahan dini, perundungan, hingga disabilitas, perlu diidentifikasi agar anak-anak tersebut dapat memperoleh solusi yang tepat. Baik melalui pendidikan formal maupun pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). (ori/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
ning hanna buku KIA buku Kesehatan Ibu dan anak