Belasan Lembaga Lainnya Tunggu SK dari Kanwil
KOTA - Belum semua madrasah di Kota Mojokerto telah menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Sebab, hingga kini dari belasan lembaga yang ada, baru dua di antaranya yang telah ditetapkan menjadi pilot project dari implementasi KBC yang mengedepankan penguatan pendidikan karakter ini.
Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kementerian Agama (Kemenag) Kota Mojokerto Pipin Sugiyanto mengatakan, dua madrasah yang resmi ditetapkan sebagai pilot project KBC adalah MAN Kota Mojokerto dan MTs PETA.
Penetapan tersebut ditandai dengan penyerahan surat keputusan (SK) secara langsung oleh Kanwil Kemenag Provinsi Jatim. ”Dari total 18 madrasah di Kota Mojokerto, baru ada dua yang menerima SK KBC untuk jadi pilot project. Lainnya juga menerapkan, tapi mengikuti dan bertahap akan mendapatkan SK juga,” katanya, kemarin (30/7).
Pipin menuturkan, penetapan kedua madrasah tersebut sebagai pilot project merupakan hasil dari berbagai pertimbangan. Termasuk kesiapan sumber daya manusia (SDM), budaya madrasah, serta komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan. ”Madrasah percontohan ini praktis punya tanggung jawab untuk menjadi teladan dalam mengimplementasikan KBC secara optimal,” imbuhnya.
Pipin menambahkan, melalui penetapan tersebut, MAN maupun MTs PETA Kota Mojokerto juga dijadikan madrasah rujukan dalam penerapan KBC. Artinya, berbagai program penguatan karakter, pembelajaran yang ramah anak, serta budaya madrasah yang menumbuhkan empati dan kepedulian akan terus dikembangkan sebagai bagian dari implementasi kurikulum baru tersebut.
”Untuk penerapannya, komitmen madrasah dalam menghadirkan pembelajaran tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kasih sayang, toleransi, kepedulian, dan pembentukan karakter peserta didik,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, KBC mewajibkan pendidik mengubah gaya mengajar dari instruktif menjadi partisipatif dan humanis. Poin utamanya, menjamin lingkungan belajar bebas dari rasa takut dan diskriminasi, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus. ”KBC diterapkan langsung pada metode interaksi guru-murid di dalam kelas hingga pembuatan regulasi sekolah yang ramah anak,” tandas Pipin. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto