Sebanyak 533 orang terdampak tersebut berasal dari lima lembaga pendidikan di bawah naungan dispendik. Kelima lembaga ini juga menerima suplai MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 3, Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo. ”Kita sudah mendata, sementara dari lima lembaga ada 533 orang yang terdampak. Baik itu siswa, guru, maupun wali murid atau keluarga siswa,” kata Plt Kepala Dispendik Kabupaten Mojokerto Yoi'e Afrida Soesetyo Djati, kemarin (13/1).
Lima lembaga yang telah ditelusuri tersebut antara lain, SMPN 2 Kutorejo, SMP Al Hidayah, SDN Wonodadi 1 dan Wonodadi 2, serta SDN Singowangi. ”Dari lima lembaga ini, paling banyak di SMPN 2 Kutorejo, dengan total 293 anak dari jumlah penerima (MBG) 666 siswa,” imbuhnya. Sebanyak 164 siswa merasakan gejala ringan dan gejala sedang dialami 68 siswa. ”Dari pendataan kemarin juga, 35 anak masih menjalani rawat inap, dan 26 orang lainnya merupakan keluarga siswa yang ikut terdampak,” tuturnya.
Pihaknya menyatakan, hingga saat ini pembelajaran di sekolah tetap berjalan normal. Namun, bagi siswa terdampak dan tidak bisa masuk sekolah mendapat dispensasi dan mengikuti pembelajaran susulan. ”Ini menjadi evaluasi kita bersama, agar ke depan benar-benar bisa menjadi sekolah yang aman bagi anak,” tukasnya.
Sementara itu, Kemenag Kabupaten Mojokerto mencatata total terdapat 247 orang yang terdampak dugaan keracunan dari menu soto MBG yang didistribusikan pada Jumat (9/1) lalu itu. Ratusan orang tersebut tersebar di enam madrasah. ”Tidak hanya siswa, beberapa guru dan pengasuh (pesantren) juga ada yang mencicipi menu, sehingga ikut terdampak,” tambah Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kemenag Kabupaten Mojokerto Masruchan, kemarin (13/1).
Enam madrasah yang turut menerima MBG itu, lanjut dia, antara lain RA Nurul Hidayah Wonodadi, MI Nurul Hidayah Wonodadi, MTS Mahad Annur Singowangi, MTS Nurul Hidayah Wonodadi, MA TI Berlian Wonodadi, serta MA Mahad Annur Singowangi. ”Kalau untuk madrasah dan ponpes, penerimanya tetap dihitung berdasarkan jenjang madrasah, karena per siswa,” urainya.
Masruchan menegaskan, berdasarkan keterangan dari keenam lembaga tersebut, rentang waktu distribusi hingga konsumsi MBG siswa juga berbeda. Di RA Nurul Hidayah, misalnya. Mereka menerima MBG pada pukul 08.00 dan baru dikonsumsi satu jam kemudian. ”Untuk jenjang MTs dan MA ada yang distribusinya pukul 09.00-10.00, dan rata-rata baru dikonsumsi setelah Jumatan,” paparnya.
Hingga kemarin, siswa maupun orang tua dan tenaga pendidik masih menjalani perawatan di 16 fasyankes. Tersebar di RSUD Prof. dr. Soekandar, RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo, RSI Arofah, RSUD Sumberglagah, RS Kartini, RS Mawaddah, RS Sidowaras, RSI Sakinah, RS Dian Husada, Puskesmas Kutorejo, Puskesmas Gondang, Puskesmas Pacet, Puskesmas Bangsal, dan Puskesmas Dlanggu. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah