inesrosalita@gmail.com
Ilmu Komunikikasi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang
DALAM era digital sekarang yang serbaterbuka, kaum Gen Z dikenal sebagai generasi yang paling aktif dan ekspresif dalam dunia maya. Generasi inilah yang memunculkan sebuah tren baru yang kini semakin marak: second account, atau yang lebih dikenal dengan ”akun kedua”, ”akun alter”, atau ”akun cadangan”.
Tren ini bukan sekadar gaya, tetapi sudah berkembang menjadi fenomena sosial yang memiliki dampak besar dalam pola interaksi digital anak muda Indonesia. Kehadiran second account pada dasarnya dipicu oleh dua hal: kebutuhan akan privasi dan kebutuhan untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan sosial.
Di permukaan, tren ini terlihat wajar, siapa pun ingin memiliki ruang aman di tengah kebisingan digital tanpa adanya tekanan luar. Namun di balik itu, ada dinamika yang lebih kompleks, mulai dari persoalan identitas digital, kesehatan mental, hingga risiko penyalahgunaan dan eksploitasi data pribadi.
Gen Z tumbuh dalam dunia yang seluruh aktivitasnya terekam: unggahan foto, komentar, riwayat pencarian, hingga lokasi yang secara otomatis tersimpan. Di tengah situasi tersebut, akun utama sering kali menjadi ruang publik yang penuh tuntutan: harus rapi, harus estetik, harus sesuai ekspektasi sosial.
Di sinilah second account hadir sebagai ruang pelarian. Tempat di mana seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa khawatir dinilai. Mereka dapat bercerita tentang kekhawatiran, curhat akademik, keresahan hubungan, hingga membagikan sisi hidup yang tidak ingin dilihat oleh publik.
Namun, kebutuhan akan ruang aman ini justru memperlihatkan masalah lain: privasi kini menjadi komoditas yang semakin langka dan mahal di era digital, sehingga pengguna merasa perlu menciptakan identitas ganda untuk tetap merasa nyaman dalam menggunakan social media.
Tidak bisa dipungkiri bahwa digitalisasi membawa standar sosial baru yang cukup berat bagi Gen Z. Tekanan sosial media itu terasa sangat nyata, mereka hidup dalam budaya ”always online”, gengsi di mana validasi dan pressure sering diukur melalui jumlah like, komentar, hingga seberapa estetik sebuah konten yang diunggah. Akun utama menjadi etalase kehidupan dunia maya. Sementara akun kedua menjadi gudang ekspresi jati diri mereka.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda saat ini sebenarnya mengalami tekanan sosial yang tidak kecil. Di satu sisi mereka ingin tampil sempurna secara online, namun di sisi lain mereka tetap membutuhkan tempat untuk bernapas dan menjadi diri sendiri tanpa adanya rasa takut.
Bahkan, beberapa riset terbaru dikalangan remaja mengenai fenomena ini menunjukkan bahwa anak muda Indonesia menggunakan second account untuk: menghindari cyberbullying, mengurangi kecemasan sosial, berbagi cerita yang sensitif, menghindari pantauan keluarga atau lingkungan kerja, menciptakan persona digital yang berbeda.
Dengan kata lain, second account menjadi zona privat di mana mereka dapat leluasa menjadi diri mereka sendiri dan menggimbangi pesona kehidupan sosial media mereka. Meski memberikan kenyamanan terhadap personal, second account juga memiliki sisi gelap yang tidak boleh diabaikan. Di banyak kasus, akun kedua dijadikan tempat untuk melakukan perilaku digital yang berisiko: menyebar curhat yang mengandung data sensitif, menjelekkan orang lain tanpa identitas, hingga melakukan interaksi yang rawan eksploitasi.
Fenomena alter account yang muncul di platform X (Twitter) dan juga Instagram beberapa tahun terakhir juga membuktikan bagaimana ruang yang seharusnya aman bisa berubah menjadi ruang rawan kekerasan digital dan penyalahgunaan identitas.
Secara psikologis, identitas ganda ini juga tidak selalu sehat. Ada pengguna yang merasa terjebak dalam dua kehidupan digital yang berbeda. Sebagian merasa burnout akibat harus mengelola dua persona sekaligus. Sebagian lainnya mulai kehilangan batas antara realitas dan identitas digital yang mereka ciptakan sendiri.
Setiap unggahan meninggalkan jejak digital. Setiap unggahan disimpan. Setiap data diproses oleh algoritma untuk menyesuaikan tayangan konten, iklan, dan rekomendasi pada masing-masing akun. Fenomena ini membuat banyak pengguna merasa bahwa akun utama mereka bukan lagi milik pribadi sepenuhnya, melainkan bagian dari sistem yang memantau dan mengatur rutinitas digital.
Oleh karena itu, second account muncul sebagai strategi bertahan. Strategi untuk menjaga identitas, mengontrol informasi, sekaligus mengurangi keterpaparan terhadap algoritma dan pengawasan digital.
Fenomena second account di kalangan Gen Z adalah cermin dari era digital yang semakin rumit: penuh peluang, namun juga penuh tekanan. Di satu sisi, akun kedua menjadi ruang aman bagi banyak anak muda untuk mengekspresikan diri. Namun di sisi lain, ia juga membawa risiko privasi, tekanan identitas, dan potensi penyalahgunaan.
Pada akhirnya, tantangan kita bukan sekadar mengatur penggunaan akun, tetapi membangun ekosistem digital yang membuat pengguna tidak mencari pelampiasan dari akun utama mereka. Ekosistem yang sehat, aman, dan memberi ruang bagi setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa harus bersembunyi di balik identitas kedua. (*)
Editor : Fendy Hermansyah