Kasus kekerasan dan perundungan (bullying) di sekolah masih menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan. Menyadari hal itu, SDN Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, menggagas inovasi berupa permainan Simulasi Stop Kesal (stop kekerasan seksual), sebagai upaya nyata menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan ramah anak.
Kepala SDN Gayaman Siti Uswatun Khasanah mengatakan, inovasi ini mengedepankan pendekatan holistik yang melibatkan seluruh elemen sekolah. Mulai dari guru, siswa, hingga orang tua. Bahkan, komunitas sekitar diajak untuk bersama-sama membangun budaya sekolah yang penuh empati, peduli, dan saling menghargai. ’’Komitmen SDN Gayaman dengan berbagai dukungan dari semua pihak yang cukup besar sangat dibutuhkan dalam mewujudkan inovasi ini,’’ katanya.
Dia menjelaskan, strategi penerapan inovasi Simulasi Stop Kesal ini meliputi, edukasi anti-bullying secara berkala, pendampingan psikososial bagi siswa rentan, serta pembentukan tim sahabat sekolah sebagai agen perubahan di antara siswa. Tujuan utama dari inovasi ini adalah menghapus stigma, membangun kesadaran, dan menciptakan rasa yang dimiliki di antara siswa. ’’Sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh yang aman secara emosional dan sosial,’’ terangnya.
SDN Gayaman sendiri juga telah menjalani standardisasi Sekolah Ramah Anak Kabupaten Mojokerto beberapa waktu lalu. Itu dihadiri perwakilan dari Dinas Pendidikan, Bappeda, dan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (DPPKBPP) Kabupaten Mojokerto sekaligus tim fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak. ’’Dengan adanya inovasi ini, diharapkan seluruh warga sekolah dapat lebih memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai positif bagi anak-anak,’’ tandasnya. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi