Menjadi guru mata pelajaran (mapel) bahasa Indonesia bukan hanya tentang mengajarkan ejaan, struktur kalimat, atau jenis teks. Lebih dari itu, tugas seorang guru adalah membantu siswa memahami makna di balik setiap kata dan menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa sendiri.
Dalam keseharian, pembelajaran mapel bahasa Indonesia diarahkan agar siswa tidak sekadar memahami teori, tetapi juga mampu menggunakan dalam kehidupan nyata. Itulah prinsip yang selama ini dipegang guru bahasa Indonesia di SMPN 2 Trowulan, Lia Wahyu Andika, S.Pd ini. ’’Melalui kegiatan membaca, menulis, dan berdiskusi, siswa belajar menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, dan mengekspresikan gagasan dengan sopan dan kreatif,’’ paparnya.
Untuk mewujudkan hal itu, alumnus Universitas Negeri Surabaya ini menggagas program inovatif di sekolah. Salah satunya adalah Literasi 20 Menit: Dari Membaca ke Berkarya. ’’Dalam program ini, siswa tidak hanya membaca teks secara pasif, tetapi juga mengolahnya menjadi karya kreatif,’’ tuturnya.
Setiap pagi, selama dua puluh menit, siswa membaca cerpen, puisi, artikel, atau bahkan surat inspiratif. Setelah itu, siswa bisa berdiskusi, menulis refleksi, atau menciptakan karya seni kecil yang terinspirasi dari bacaan tersebut. ’’Kegiatan sederhana ini terbukti menumbuhkan minat baca sekaligus membentuk karakter berpikir kritis dan kreatif pada siswa,’’ imbuh dia.
Program lain adalah Madingku, Karyaku. Melalui kegiatan ini, setiap kelas membuat majalah dinding tematik yang memadukan karya sastra, opini, dan informasi. Dia juga aktif membangun budaya literasi lintas mata pelajaran di sekolah. Lia berkolaborasi dengan guru lain agar kegiatan membaca dan menulis tidak hanya menjadi tanggung jawab pelajaran bahasa Indonesia, tetapi juga bagian dari setiap bidang studi.
”Saya percaya, literasi adalah jantung pendidikan. Di mana kemampuan memahami, menafsirkan, dan mengekspresikan dunia melalui kata,’’ tandas salah satu Guru Penggerak angkatan 7 ini. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi