Pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan kontekstual menjadi metode andalan yang diterapkan Tutik Yustia dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sebagai guru bimbingan konseling (BK) di SMK Raden Rahmat Mojosari, selama ini dia tidak hanya mengandalkan metode ceramah, tetapi juga memanfaatkan berbagai media pembelajaran.
Seperti video edukatif, presentasi interaktif, platform digital, hingga komunikasi dua arah untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi. Selain itu, dia juga menerapkan model pembelajaran berbasis PBL (problem based learning). ’’Dengan metode ini, siswa dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi dan dapat mengambil keputusannya sendiri,’’ kata guru penggerak di SMK Raden Rahmat Mojosari ini.
Tutik menilai, dengan belajar melalui pengalaman secara langsung, siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Di sisi lain, menggali kreativitas dan mampu kerja sama dalam tim, sehingga mampu menghadapi tantangan hidup. ’’Bisa menjadi bekal mereka saat lulus dari sekolah nanti, dan bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat,’’ terang wanita yang aktif di Komunitas Guru Satkara Berbagi ini.
Tutik juga mengintegrasikan teknologi dalam proses belajar. Seperti penggunaan Google Classroom untuk penyampaian materi dan pengumpulan tugas, serta kuis interaktif melalui aplikasi Wordwall. Dengan cara ini, siswa menjadi lebih antusias dan termotivasi dalam mengikuti pelajaran. ’’Inovasi-inovasi tersebut saya lakukan agar proses pembelajaran tidak monoton, lebih bermakna, dan mampu menyesuaikan dengan karakter maupun kebutuhan belajar siswa di era digital saat ini,’’ pungkas guru yang telah mengikuti bimtek 7 jurus BK hebat tersebut. (oce/ris)
Editor : Hendra Junaedi